KBRN, Bukittinggi: Liburan sering dianggap sebagai momen melepas penat tanpa perlu banyak mikir dampaknya. Padahal, setiap langkah traveler meninggalkan jejak, mulai dari sampah plastik hingga emisi karbon. Pertanyaannya sederhana tapi penting: liburan sadar lingkungan, emang bisa dilakukan secara nyata?
Menurut UN World Tourism Organization (UNWTO), sektor pariwisata menyumbang sekitar 8–10% emisi karbon global. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas wisata punya pengaruh besar terhadap kondisi lingkungan. Artinya, cara kita berlibur hari ini ikut menentukan kualitas bumi di masa depan.
Liburan sadar lingkungan bukan soal anti traveling, tapi soal lebih bijak dalam memilih. Menggunakan transportasi ramah lingkungan, membawa botol minum sendiri, dan memilih penginapan berkonsep eco-friendly adalah langkah kecil yang berdampak besar. Data dari Booking.com (2024) menunjukkan 76% wisatawan global ingin berwisata lebih berkelanjutan, meski belum semuanya tahu caranya.
Selain alam, pariwisata berkelanjutan juga menyentuh sisi manusia dan budaya. Mendukung usaha lokal, menghormati adat setempat, dan tidak merusak ruang hidup masyarakat adalah bentuk empati sebagai traveler. Pariwisata yang sehat adalah ketika wisatawan datang, tapi komunitas lokal tetap berdaulat.
Jadi, liburan sadar lingkungan itu bukan hal mustahil atau ribet. Justru, pilihan sederhana yang kita ambil bisa membuat perjalanan terasa lebih bermakna. Karena liburan yang baik bukan hanya menyenangkan diri sendiri, tapi juga menjaga bumi agar tetap bisa dinikmati generasi berikutnya. (AMP/RRIBKT)