Mengapa Resolusi Tahun Baru Sering Gagal Dipertahankan Orang

KBRN, Bukittinggi: Menjelang akhir tahun, banyak orang tiba-tiba merasa perlu melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Mulai dari hidup lebih sehat, lebih produktif, hingga menjadi versi diri yang “lebih baik” di tahun depan. Pergantian kalender seolah menjadi tanda resmi bahwa perubahan harus dimulai, meski sering kali niat itu sudah ada jauh sebelumnya.

Fenomena membuat resolusi tahun baru bukan hal baru, namun tingkat keberhasilannya ternyata rendah. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Psychology menunjukkan bahwa hanya sekitar 8–10 persen orang yang benar-benar berhasil mempertahankan resolusi tahun barunya dalam jangka panjang. Artinya, sebagian besar resolusi berakhir sebagai wacana yang menguap setelah beberapa minggu pertama Januari.

Salah satu alasan utama orang menunda perubahan hingga tahun baru adalah apa yang disebut psikolog sebagai fresh start effect. Penelitian yang dilakukan oleh Katherine Milkman dan tim dari Wharton School menyebutkan bahwa momen simbolis seperti awal tahun memberi ilusi awal yang bersih dan memotivasi. Sayangnya, efek ini sering kali hanya bersifat sementara dan tidak cukup kuat untuk menghadapi tantangan nyata dalam membangun kebiasaan baru.

Selain itu, kecenderungan menunda juga berkaitan erat dengan prokrastinasi. Para peneliti perilaku menyebut bahwa manusia cenderung menghindari perubahan yang terasa besar dan tidak nyaman secara emosional. Menunda hingga tahun baru menjadi cara aman untuk merasa “sudah berniat berubah”, tanpa harus langsung menghadapi prosesnya.

Masalah lainnya adalah resolusi yang dibuat sering kali terlalu besar dan abstrak. Forbes dalam laporan kesehatannya mencatat bahwa resolusi yang tidak spesifik dan terlalu ambisius lebih cepat ditinggalkan, rata-rata hanya bertahan sekitar tiga hingga empat bulan. Tanpa target kecil yang realistis, motivasi awal biasanya cepat terkikis oleh rutinitas sehari-hari.

Menunggu tahun baru untuk berubah sebenarnya wajar dan sangat manusiawi. Namun, jika penundaan itu justru membuat kita kehilangan momentum terbaik untuk memulai, mungkin yang perlu diubah bukan tahunnya, melainkan cara kita memulai. Karena pada akhirnya, perubahan yang bertahan lama jarang dimulai dari tanggal istimewa, melainkan dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. (DKA)


Rekomendasi Berita