KBRN, Bukittinggi: Tahun baru biasanya bikin kita sibuk nyusun resolusi besar: karier harus naik, tabungan harus nambah, target hidup harus tercapai. Tapi di tengah semua itu, sering ada satu hal penting yang kelewat—hidup yang seimbang. Padahal, tanpa keseimbangan, semua rencana bagus itu bisa berubah jadi sumber capek, baik fisik maupun mental.
Faktanya, banyak anak muda hidup dalam mode “kejar terus tanpa jeda”. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan lebih dari 60% pekerja muda mengalami stres kerja karena ritme hidup yang terlalu padat dan nggak seimbang. Ini tanda kalau work-life balance bukan cuma isu klise, tapi masalah nyata yang pelan-pelan bisa menggerus kesehatan mental dan kualitas hidup.
Hidup seimbang bukan berarti menurunkan mimpi atau jadi kurang ambisius. Justru sebaliknya, saat kita tahu kapan harus fokus kerja dan kapan harus berhenti sebentar, hasilnya bisa lebih maksimal. Harvard Business Review mencatat orang dengan work-life balance yang baik bisa 25% lebih produktif dibanding mereka yang terus-terusan berada di bawah tekanan.
Masalahnya, resolusi hidup seimbang sering dianggap “nggak keren” karena hasilnya nggak bisa langsung dipamerin. Nggak ada angka pencapaian atau validasi instan di media sosial. Padahal, hal-hal sederhana seperti tidur cukup, mengurangi screen time, atau meluangkan waktu buat diri sendiri adalah bentuk self-care yang dampaknya besar, meski sering diremehkan.
Masuk tahun baru, mungkin sudah saatnya kita mendefinisikan ulang arti resolusi hidup. Bukan cuma soal seberapa jauh kita melangkah, tapi juga seberapa sehat dan waras kita menjalaninya. Menjadikan hidup seimbang sebagai resolusi utama bukan tanda menyerah, tapi tanda kita ingin bertumbuh dengan cara yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.(AMP/RRIBKT)