KBRN, Mataram: Pergeseran tren oleh-oleh ini tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utamanya adalah perubahan preferensi generasi muda, khususnya wisatawan dari kalangan milenial dan Gen Z. Kelompok usia ini cenderung menyukai produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika, cerita, dan bisa merepresentasikan identitas diri. Aksesoris dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena mudah dipadupadankan, relevan dengan gaya sehari-hari, serta kerap tampil fotogenik untuk dibagikan di media sosial.
Selain itu, pengaruh media digital turut mempercepat tren ini. Konten perjalanan, gaya hidup, hingga UMKM lokal yang banyak diangkat melalui media sosial dan platform YouTube kredibel membuat aksesoris lokal semakin dikenal luas. Visual display yang menarik dan narasi tentang proses pembuatan handmade menumbuhkan ketertarikan wisatawan untuk membeli langsung di lokasi wisata.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah meningkatnya kesadaran terhadap produk lokal dan berkelanjutan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat bahwa wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) mendorong wisatawan untuk memilih oleh-oleh yang memiliki dampak ekonomi langsung bagi pelaku UMKM. Aksesoris lokal, dengan produksi terbatas dan berbasis kerajinan tangan, dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan produk massal.
Dengan kombinasi tren gaya hidup, kekuatan media digital, serta kesadaran akan nilai lokal, aksesoris kini bukan hanya sekadar barang bawaan pulang. Ia menjelma sebagai simbol selera, kepedulian, dan pengalaman wisata yang lebih bermakna. (RRI/Irene Dyah)