KBRN, Jember: Pada akhirnya, hyperpop bukan sekadar genre musik elektronik, melainkan gerakan budaya yang lahir dari internet dan terus berkembang sebagai medium ekspresi, kritik sosial, serta perlawanan terhadap batasan konvensional industri musik. Hyperpop menjadi bukti bahwa suara dari marjinal dapat membentuk arus utama dengan cara yang radikal dan kreatif.KBRN, Jember: Hyperpop merupakan subgenre musik elektronik yang memadukan pop dengan EDM secara berlebihan dan eksperimental. Genre ini lahir sebagai bentuk reaksi terhadap musik pop arus utama yang dianggap terlalu “plastik”, sekaligus sebagai ekspresi generasi pertama yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Menurut pembahasan Alia Messina yang dimuat di theeagleonline.com, hyperpop tidak hanya menjadi gaya musik, tetapi juga medium kritik sosial terhadap tekanan mental, kapitalisme, dan budaya digital yang membentuk kehidupan generasi muda saat ini.
Secara musikal, hyperpop ditandai oleh tempo cepat, bass yang sangat kuat, penggunaan efek suara tidak lazim seperti bunyi logam atau bor, distorsi vokal ekstrem, serta melodi yang repetitif dan hiperbolik. Di permukaan, musik ini terdengar absurd, namun di balik itu tersimpan komentar sosial yang lebih dalam bagi pendengar yang mau mencermatinya. Karakter eksperimental inilah yang membuat hyperpop berbeda dari genre pop konvensional.
Asal-usul hyperpop masih menjadi perdebatan. Meski berkembang pesat di skena SoundCloud sekitar 2010-an, sejumlah pengamat menelusuri pengaruh awalnya hingga ke karya The Beach Boys dalam album Pet Sounds. Namun, bentuk modern hyperpop mulai terbentuk melalui karya produser dan musisi seperti A.G. Cook, SOPHIE, Rustie, Hudson Mohawke, serta kolektif PC Music. Nama A.G. Cook sendiri dikenal sebagai figur sentral karena perannya sebagai pendiri PC Music sekaligus produser dan kolaborator lama Charli XCX.Istilah “hyperpop” sendiri mulai dikenal luas pada 2019, ketika editor Spotify Lizzy Szabo membuat daftar putar bertajuk Hyperpop. Meski demikian, istilah tersebut sebenarnya diciptakan oleh Glenn McDonald, rekan Szabo, untuk menggambarkan musik dari duo eksperimental 100 gecs. Kelompok ini kemudian dianggap sebagai pionir utama hyperpop modern berkat album 1000 gecs dan 10,000 gecs, yang membawa genre ini dari ranah internet ke perhatian publik global.Keunikan hyperpop juga terletak pada sifatnya yang sangat demokratis. Musik ini dapat dibuat menggunakan perangkat lunak sederhana seperti GarageBand atau Audacity, lalu dibagikan secara gratis melalui platform seperti SoundCloud. Karena itu, hyperpop berkembang sebagai genre berbasis komunitas dan partisipasi, bukan industri besar. Hal ini memungkinkan siapa pun menjadi kreator, tanpa harus melalui jalur label besar.Di balik tampilannya yang eksentrik, hyperpop kerap memuat kritik terhadap kapitalisme, neoliberalisme, serta tekanan hidup di era digital. Genre ini mencerminkan pengalaman tumbuh di tengah media sosial, algoritma, dan budaya viral, sekaligus menjadi bentuk perlawanan artistik terhadap norma industri musik konvensional.Popularitas hyperpop mencapai puncaknya pada 2019–2020, terutama melalui media sosial seperti TikTok. Salah satu contoh paling menonjol adalah lagu “SugarCrash!” karya ElyOtto, yang menghasilkan lebih dari lima juta video di TikTok dan hampir 140 juta pemutaran di Spotify. Lagu ini menjadi salah satu simbol keberhasilan hyperpop menembus budaya populer global.Meski gaung viralnya mulai mereda, hyperpop tetap bertahan dan berevolusi. Charli XCX, salah satu figur penting genre ini, kembali meraih kesuksesan lewat album brat yang diproduseri bersama A.G. Cook. Karya tersebut menegaskan bahwa hyperpop masih relevan sebagai ruang eksplorasi musikal dan identitas.