Jaringan Transportasi di Area Bencana Sangat Rentan

KBRN, Yogyakarta: Guru Besar UGM bidang ilmu Manajemen Logistik dan Rantai Pasok Profesor Kuncoro Harto Widodo menyebut kerentanan jaringan transportasi dan logistik, pangan dan energi di Sumatra. Ada tiga isu penting yang ia soroti.

Yaitu perlunya perbaikan infrastruktur transportasi dan logistik, penanganan keterlambatan bantuan logistik, dan memperbaiki desain simpul dan jaringan yang tangguh dan adaptif.

Kendala di titik simpul dan jaringan transportasi menyebabkan gangguan terhadap ketahanan pangan yang di kawasan itu,” katanya, Rabu (31/12/2025).

Tantangan utama logistik di Sumatra meliputi kerentanan infrastruktur akibat ketiadaan jalur alternatif di wilayah rawan bencana serta hambatan koordinasi antar pemangku kepentingan yang memperlambat distribusi bantuan.

Untuk mengatasinya, diperlukan pergeseran dari solusi jangka pendek menuju desain jaringan jangka panjang yang tangguh, meliputi redundansi jalur, penerapan dynamic routing, desentralisasi gudang logistik dan penguatan konektivitas laut guna menciptakan sistem yang adaptif dan resilien.

Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti menyebut, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di daerah bencana saat ini.

Di Aceh ada sekitar 87.000 ton beras, Sumut 31.000 ton beras, dan Sumbar 7.700 ton beras. Stok ini dapat digunakan untuk para korban terdampak, dengan mekanisme penyalurannya yang berjenjang.

“Nah, ini yang kemudian nanti kita bisa gunakan sebenarnya untuk kaitannya bagaimana bisa disalurkan cadangan pangan pemerintah ini untuk penanganan bencana dan penyaluran,” ujarnya. (dev/ws/par)

Rekomendasi Berita