KBRN, Sleman: Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mencatat ada 1.666 titik kerusakan infrastruktur di tiga provinsi di Sumatra akibat bencana banjir bandang dan longsor.
Angka ini diperparah dengan kerusakan infrastruktur logistik kritis, di mana 271 jembatan rusak dan jalur transportasi darat terputus.
“Dampaknya langsung terasa distribusi terhambat, pasokan terhenti, hingga memicu kepanikan sosial di tengah masyarakat,” ujar Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Profesor Siti Malkhamah, Rabu (31/12/2025).
Menurut Siti, pemerintah dan akademisi perlu melakukan identifikasi kerentanan, analisis kebijakan, dan juga secara bersama-sama adanya perumusan rekomendasi konkret untuk penguatan sistem logistik yang tangguh.
”Saat ini, dibutuhkan terobosan dalam desain jaringan transportasi, manajemen cadangan, dan koordinasi respon darurat,” ujarnya.
Siti menjelaskan, Sumatra merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Pada sektor pangan, Sumut menyumbang produksi padi hingga 2,15 juta ton gabah kering giling dan 1,37 juta ton jagung.
Sementara dari sektor energi, data PLN Sumatera Utara 2022 menunjukkan bahwa 40,06 persen bauran energi listrik di wilayah ini berasal dari energi baru terbarukan, di samping kontribusi gas 23,23 persen dan batu bara 32,89 persen. (dev/ws/par)