KBRN, Kulon Progo: Di balik kesederhanaan sebungkus peyek, tersimpan kisah perjuangan bisnis yang gigih. Payung Menoreh, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dan di pasar-pasar tradisional Kulon Progo, adalah UMKM spesialis peyek renyah yang memulai kiprahnya pada September 2012. Peyek Payung Menoreh mempunyai beberapa varian, seperti peyek kacang tanah, kacang tholo dan kacang hijau. Kini usaha ini tidak hanya fokus menjaga kualitas rasa tapi juga berupaya keras memperluas jangkauan pasar di tengah fluktuasi harga bahan baku yang kian tinggi.
Nur Yati yang merupakan generasi kedua usaha Payung Menoreh, mengaku bahwa menjalankan bisnis peyek di era sekarang penuh dengan tantangan yang kompleks. Harga bahan baku seperti tepung beras, tepung tapioka, kacang kedelai, kacang tholo, dan kacang tanah semakin melambung tinggi.
“Bahan bakunya tidak sulit, tapi harganya yang melambung tinggi membuat kami kesulitan untuk menjual (peyek),” ujar Nur Yati.
Kenaikan harga bahan baku yang terus-menerus menjadi tantangan berat. Dampaknya terasa saat Nur Yati harus berhadapan dengan situasi pasar yang sensitif terhadap harga jual. Persaingan harga dengan produk yang sama membuatnya kewalahan untuk menaikkan harga jual.
Tantangan lain adalah semakin banyaknya UMKM di Kulon Progo yang memproduksi peyek sejenis, yang secara otomatis mengurangi daya beli konsumen. Saat ini, Payung Menoreh memasok produknya ke berbagai pasar dan kios di area Wates, Temon, Kulon Progo hingga Pasar Purworejo, Jawa Tengah. Namun, ambisi untuk memperluas jangkauan ke luar kota sempat terhalang kendala logistik.
“Pernah kirim peyek ke Bandung lewat jasa pengiriman, tapi ternyata pas diterima peyeknya sudah remuk,” ujar Nur Yati.
Meskipun menghadapi persaingan dan kendala harga, semangat Payung Menoreh untuk terus memproduksi peyek berkualitas tidak pernah padam. Sebagai generasi penerus, Nur Yati berharap peyek Payung Menoreh makin laris di pasaran dan tetap bisa berproduksi bersama delapan karyawannya.