Memahami Perbedaan Gempa Vulkanik dan Tektonik

KBRN Lhokseumawe : Fenomena gempa bumi menjadi salah satu ancaman alam yang tak bisa diabaikan di Indonesia, termasuk Aceh yang berada di jalur “Cincin Api Pasifik”. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, secara umum gempa bumi dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu gempa tektonik dan gempa vulkanik.

Menurut BMKG, gempa tektonik merupakan jenis gempa yang paling sering terjadi di Indonesia. Gempa ini muncul akibat pergeseran atau pergerakan lempeng tektonik bumi, saat energi yang terakumulasi di dalam kerak bumi dilepaskan secara tiba-tiba. Indonesia sebagai negara yang berada pada pertemuan tiga lempeng besar dunia Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik  membuat wilayah ini rawan terhadap aktivitas gempa tektonik. Gempa jenis ini biasanya memiliki kekuatan besar dan bisa dirasakan hingga wilayah yang luas, bahkan berpotensi memicu tsunami jika pusat gempanya berada di dasar laut dengan kedalaman dangkal.

Sementara itu, gempa vulkanik berkaitan langsung dengan aktivitas gunung api. BMKG menyampaikan bahwa gempa vulkanik terjadi ketika magma bergerak dari dalam perut bumi menuju permukaan, sehingga tekanan di sekitar area gunung api aktif meningkat dan memicu getaran. Ciri khas gempa vulkanik adalah getarannya sering terjadi di daerah sekitar gunung berapi aktif dan umumnya bersifat lokal, meski terkadang bisa menjadi salah satu sinyal awal meningkatnya aktivitas vulkanik yang berpotensi menyebabkan erupsi.

Menurut penjelasan dari Hariz Jumita S.Pd, seorang guru sains di Labschool Unsyiah. Menurut Hariz, perbedaan antara kedua jenis gempa tersebut penting dipahami sejak dini, terutama di wilayah rawan bencana.

“Gempa tektonik terjadi karena gerakan lempeng bumi, sedangkan gempa vulkanik terjadi karena aktivitas magma di dalam gunung api. Secara sederhana, gempa tektonik dapat kita bayangkan seperti dua balok besar saling mendorong di bawah tanah hingga akhirnya lepas dan menggetarkan permukaan. Sedangkan gempa vulkanik ibarat ketika cairan panas (magma) mencari jalannya ke atas, sehingga batuan di sekitarnya berguncang,” ujar Hariz.

 “Pemahaman ini sangat penting agar kita tidak salah menilai penyebab gempa yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Dengan ilmu dasar ini, mitigasi dan kesiapsiagaan dapat dilakukan lebih baik,” tambahnya.

BMKG bersama para pakar pendidikan seperti Hariz terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik, serta selalu mengikuti informasi resmi terkait bencana dari BMKG dan otoritas kebencanaan setempat. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dengan memahami perbedaan antara gempa tektonik dan vulkanik secara benar, diharapkan masyarakat di Aceh dan sekitarnya semakin siap menghadapi potensi gempa, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan sejak dini.

Rekomendasi Berita