KBRN, Cirebon: Mendeteksi lingkungan kerja yang mulai beracun (toxic) tidak selalu mudah karena gejalanya seringkali tidak kasat mata. Salah satu indikator paling nyata adalah paradoks komunikasi: ruang rapat sunyi senyap saat sesi diskusi, namun grup WhatsApp karyawan ramai dengan komentar negatif dan keluhan segera setelah rapat bubar.
Fenomena ini menunjukkan adanya ketakutan untuk bersuara secara terbuka. Selain itu, kebiasaan membicarakan keburukan atasan atau rekan kerja di belakang menjadi norma baru yang merusak kohesi tim.
Jika dibiarkan, dampak dari budaya ini sangat fatal bagi keberlangsungan bisnis. Perusahaan akan mengalami peningkatan angka turnover, di mana karyawan terbaik seringkali menjadi yang pertama angkat kaki karena tidak tahan dengan drama yang tidak produktif.
Dilansir dari MIT Sloan Management Review, budaya perusahaan yang toxic adalah penyebab utama karyawan mengundurkan diri, bahkan dampaknya 10 kali lebih besar dibandingkan faktor ketidakpuasan gaji. Tanpa adanya rasa aman secara psikologis (psychological safety), inovasi akan mandek karena orang takut salah dan takut dikritik.
Manajemen seringkali dianggap "jauh" dan tidak bisa dipercaya dalam situasi seperti ini. Bahaya terbesarnya adalah budaya ketidakpercayaan ini menular dengan sangat cepat lintas tim dan generasi, meracuni karyawan baru yang sebenarnya potensial.
Masalah yang seharusnya diselesaikan justru disimpan dan menjadi bom waktu, karena tidak ada yang berani mengambil inisiatif untuk memperbaikinya. Untuk mencegah kehancuran lebih lanjut, evaluasi budaya kerja harus segera dilakukan saat tanda-tanda ini muncul.
Jangan menunggu sampai talenta terbaik pergi atau reputasi perusahaan hancur. Kesehatan organisasi sama pentingnya dengan kesehatan finansial; jika "imun" budaya kerja lemah, penyakit sekecil apa pun bisa melumpuhkan operasional perusahaan secara keseluruhan.