"Esok Tanpa Ibu" Angkat Perasaan Duka juga Optimisme

KBRN, Bandung: Penulis Gina S. Noer, yang menggarap "Esok Tanpa Ibu" bersama Diva Apresya dan Melarissa Sjarief, menjelaskan skenario film tersebut diolah dengan mengeksplorasi "anticipatory grief" yang diklaim merupakan bentuk "perfect grief". "Ini adalah duka yang jarang dibahas, yaitu perasaan berduka karena kita tahu sesuatu akan terjadi, misalnya orang terdekat sakit atau orang tua semakin menua," kata Gina dalam keterangannya, Selasa (16/12/2025).

Berbeda dengan kebanyakan film fiksi ilmiah (sci-fi) pada umumnya yang menceritakan masa depan yang suram, Gina mengatakan "Esok Tanpa Ibu" justru berusaha melihat masa depan dari sisi optimisme. Optimisme itu datang dari sosok Laras dan orang-orang seperti dia, yang masih berharap dan mencoba keras kepala sekali demi masa depan generasi mendatang, menciptakan atau menumbuhkan bunga-bunga, meskipun berhadapan dengan rusaknya alam.

Gina mengaku naskah film diolah seperti itu karena terinspirasi oleh sosok Rendy Aditya, seorang pengolah limbah di Parongpong, Bandung, yang bertanya mengapa cerita fiksi ilmiah selalu "bleak" atau suram. Hal itu terasa baginya seperti tidak ada tempat bagi orang yang mencintai dunia dan memilih mengabdikan seluruh inovasi teknologi ke arah lingkungan hidup yang lebih baik di masa depan.

Menariknya, nama anak Aditya juga Rama, sama seperti nama tokoh utama dalam film "Esok Tanpa Ibu" yang diperankan oleh aktor Ali Fikry. Diva Apresya menambahkan bahwa dia berharap cerita drama fiksi ilmiah dalam film "Esok Tanpa Ibu" dapat menantang penonton untuk berpikir dan melihat apa yang bisa mereka lakukan untuk masa depan bumi, bukan sekadar menangisi suatu peristiwa duka dengan tangisan-tangisan.

Duka yang dialami saat pandemi (tahun 2020) dijadikan pelajaran, seperti biji yang tertutup tanah, terkena hujan lalu tumbuh lagi. Pesannya adalah harapan akan selalu ada, selama manusia mau mengakui duka itu ada dan semua berusaha untuk saling bergandengan tangan.

Rekomendasi Berita