Tenun Lurik Prasojo, Tren Baru Dunia Fashion

RRI.CO.ID, Klaten - Tenun Lurik Prasojo menjadi salah satu tren dalam dunia fashion, khususnya di Indonesia. Sejak tahun 1950, Tenun Lurik Prasojo terus berkembang dan mempertahankan eksistensinya di industri fashion tradisional kontemporer.



Perjalanan Tenun Lurik Prasojo dimulai dari generasi pertama, yakni Bapak Somo Hartono, generasi kedua Wahyu Suseno dan kini dikelola oleh Maharani Setyawan sebagai generasi ketiga. Konsistensi menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan usaha busana keluarga turun temurun di tengah perubahan zaman.

Tenun Lurik Prasojo yang berlokasi di Jalan Pedan,Trucuk, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi, tetapi juga dilengkapi dengan showroom untuk memamerkan hasil karya kain lurik. “Jadi dulu waktu generasi pertama dan kedua itu hanya pabrik disini yakni pabrik lurik, selimut, serbet,jadi terkenalnya pabrik selimut, luriknya belum booming pada saat itu ,terus di generasi ketiga kami mulai bikin showroom, merambah ke retail,” ujar Maharani Setyawan kepada RRI pada Rabu, 14 Januari 2026.

Perjalanan Tenun Lurik Prasojo hingga menjadi bagian dari tren fashion saat ini tidaklah mudah. Inovasi dan kreativitas terus dikembangkan agar kepercayaan pelanggan tetap terjaga dan minat terhadap kain lurik semakin meningkat.

Pada awalnya, kain lurik kerap dipersepsikan sebagai busana masyarakat dengan strata ekonomi rendah dan identik dengan pakaian sudra dan kusir kuda. Melalui berbagai inovasi, Tenun Lurik Prasojo berupaya menghapus stigma tersebut dan menghadirkan lurik sebagai busana yang dapat diterima oleh semua kalangan, termasuk kelas menengah ke atas.

Maharani terus melakukan inovasi, mulai dari permainan warna hingga pengembangan motif lurik yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Upaya tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Tenun Lurik Prasojo semakin dikenal luas.

Penggabungan unsur tradisional dan modern menjadikan kain lurik dapat diaplikasikan ke dalam berbagai jenis busana.“Kalau fashion, sekarang lurik itu mengikuti tren saat ini kayak kemarin pandemi, semua orang bersepeda kami juga bikin outfit untuk sepedaan ,sekarang ke tenis padel, kami punya outfit batik sampai ke tas raketnya, jadi sampai mengikuti perkembangan di luar itu apa saja,” ujar Maharani.

Beberapa jenis Kain Lurik yang tersedia di Tenun Lurik Prasojo antara lain Lurik Garis standar, Lurik Hujan dengan corak garis yang dihasilkan ketika di ikat untuk memunculkan garis kecil-kecil seperti gerimis, Lurik Jumput seperti motif tie dye, dan yang terbaru adalah Lurik Batik yang memadupadankan Kain Lurik dengan motif batik. Berbagai produk dari motif ini di pamerkan pada showroom Kain Tenun Lurik Prasojo di Klaten seperti tunik, atasan, rok, sepatu formal dan kets,tas, dompet dan lainnya.

Saat ini, Maharani menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas pemasaran Tenun Lurik Prasojo sebagai upaya mendukung perputaran ekonomi. Sistem penjualan secara dropship diterapkan guna memudahkan reseller dalam memasarkan produk.

Dengan harga yang telah ditentukan, reseller tidak perlu khawatir bersaing karena perhitungan keuntungan serta prosedur penjualan telah dijelaskan sesuai ketentuan Tenun Lurik Prasojo. Melihat peluang pasar internasional yang besar, Maharani juga membawa Tenun Lurik Prasojo mengikuti pameran internasional di Tiongkok.

Kekhawatiran akan risiko plagiarisme sempat muncul, mengingat pasar Negeri Tirai Bambu dikenal dengan produk replika berharga murah, namun hal ini tidak terbukti ketika Tenun Lurik Prasojo dipamerkan.“Kita image-nya Cina itu selalu membuat produk replika dengan harga lebih murah kan tapi ternyata begitu pameran disana koper yang disini harga 3,5 aja disana bisa ditawar 15 juta,padahal produk itu sebenarnya gak dijual tapi pas bawa aja untuk nyimpan barang gitu,” ujar Maharani.

Perjalanan internasional Tenun Lurik Prasojo tidak berhenti di Tiongkok. Kain lurik ini juga tampil di London Scott Fashion Week, salah satu panggung bergengsi industri fashion dunia.

Dalam pameran di pasar Eropa, Tenun Lurik Prasojo diolah menjadi busana musim dingin dengan bahan yang lebih tebal, tanpa meninggalkan sentuhan tradisional lurik sebagai identitas utama.Meski demikian, Tenun Lurik Prasojo masih menghadapi kendala dalam memenuhi suplai reguler ke pasar Eropa akibat belum adanya edukasi menyeluruh terkait standar kualitas internasional.

Kendati demikian, Maharani terus berupaya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, untuk membuka peluang ekspansi ke pasar global dan belajar memenuhi keinginan pasar global. Maharani berharap semua pihak bangga, mau membeli dan memakai batik sebagai identitas diri di manapun berada apalagi baru - baru ini telah ditetapkan Hari Tenun Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 7 September.

Rekomendasi Berita