Batagor Kobar Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

KBRN, Yogyakarta: Warung Batagor Kota Baru (Kobar) yang dikenal sebagai salah satu kuliner legendaris tetap bertahan meski menghadapi penurunan omzet dalam beberapa tahun terakhir. Didik penjual Batagor Kobar, mengungkapkan bahwa ia telah berjualan di lokasi tersebut selama kurang lebih 15 tahun dan hanya fokus menjajakan satu menu utama, yakni batagor. “Kalau nongkrong di sini ya sekitar 15 tahunan, jualannya cuma batagor saja,” ujarnya.


Menurut Didik, sejak awal ia memang tidak pernah merangkap usaha dengan menu lain seperti cimol atau jajanan sejenis, karena ingin menjaga fokus dan cita rasa dagangannya. Namun, kondisi penjualan saat ini dinilai berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Didik mengakui adanya penurunan omzet yang cukup terasa. “Kalau sekarang memang ada penurunan omzet. Dulu waktu Jokowi itu lancar,” katanya. Ia menambahkan, sebelumnya bisa menghabiskan satu setengah ember adonan batagor per hari, sementara kini satu ember saja kadang tidak habis hingga sore.

Selain berkurangnya jumlah pembeli, tantangan lain datang dari faktor lingkungan dan penertiban. Didik bercerita bahwa sebelumnya ia berjualan di pinggir jalan, namun harus berpindah lokasi karena penataan wilayah. “Akhirnya saya datang ke sini, yang paling repot sih yang punya rumah,” ucapnya.

Kenaikan harga bahan baku juga menjadi beban tersendiri bagi pelaku usaha kecil seperti Didik. Harga kacang yang sempat melonjak dari Rp20.000 hingga mencapai Rp42.000 per kilogram turut memengaruhi biaya produksi. “Omzet menurun, bahan baku mahal,” katanya.

Meski demikian, Batagor Kobar masih memiliki pelanggan setia. Mayoritas pembelinya berasal dari orang-orang yang melintas, anak sekolah, hingga jemaat gereja sekitar. “Dulu jualannya di sekolah-sekolah, jadi mantan pelanggan itu sudah tahu saya di sini,” ujarnya.

Soal keunggulan, Didik memilih merendah. Ia menilai pelayanannya biasa saja, namun pelanggan kerap menyebut rasa batagornya berbeda. “Pelanggan sih ngomongnya gitu, katanya yang di Kota Baru beda rasanya,” ujarnya.

Ke depan, Didik berharap usahanya tetap berjalan dan bisa diteruskan oleh anaknya. Ia tidak berencana menambah menu baru dan ingin menjaga ciri khas Batagor Kobar. “Mudah-mudahan pelanggannya setia, walaupun harga-harga sekarang naik,” katanya. (aan/hanna/par)

Rekomendasi Berita