KBRN, Yogyakarta: Sebanyak lebih dari 1700 mahasiswa yang tengah menempuh studi di DIY terkena dampak bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatra. Sementara itu, di Kampus UGM, ada 218 mahasiswa yang tengarai terkena dampak bencana banjir bandang dan longsor. Kini, pemerintah daerah tengah memastikan keberlanjutan studi mahasiswa dengan fasilitas keringanan biaya kuliah serta proses pendataan lintas perguruan tinggi.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Asisten Sekretaris Daerah DIY Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Aria Nugrahadi, dengan Direktur Pengabdian Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) UGM, Dr. dr. Rustamaji, yang berlangsung di Ruang Sidang 1 Kantor DPkM UGM, Selasa (16/12/2025).
Rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan dengan delapan perguruan tinggi negeri di DIY yakni UGM, UIN, UNY, UPN, ISI, Sekolah Tinggi Pertanahan, Sekolah Tinggi Kesehatan, MMTC, dengan pemda DIY. Aria menyampaikan bahwa Pemda DIY berkomitmen menjamin keberlanjutan studi mahasiswa terdampak, terutama yang mengalami gangguan ekonomi maupun psikologi.
"Arahan dari Gubernur DIY jelas bahwa mahasiswa yang orang tuanya terdampak bencana perlu segera didata agar proses pembelajarannya tidak terganggu,” ujar Aria.
Ia menjelaskan proses pendatan menjadi langkah awal, baik proses melalui asrama mahasiswa maupun bersurat ke pimpinan perguruan tinggi dan akademi. Namun, Aria mengakui bahwa keterbatasan anggaran dan sumber daya membuat Pemda DIY perlu koresponden dengan perguruan tinggi.
“Pendekatan yang kami lakukan adalah pendataan terlebih dahulu, kemudian muaranya nanti dimungkinkan bantuan berupa tunai berdasarkan pada akuntabilitas dengan persyaratan menggunakan SK Gubernur,” ucapnya.
Bantuan tersebut, lanjut Aria, akan diberikan berdasarkan data sesuai nama dan NIK yang diverifikasi oleh otoritas perguruan tinggi, akademi, dan sekolah. Dukungan dapat mencakup aspek psikososial, biaya hidup (living cost), hingga bantuan teknis lainnya. Ia berharap proses akan rampung sebelum akhir tahun 2025 ini.
Selain itu, Aria mengungkap dukungan juga melibatkan sektor lain seperti Dinas Sosial DIY yang turut menyalurkan bantuan dengan komitmen pencairan tiap bulan. Sementara, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DIY mengoordinasikan pendataan mahasiswa dari perguruan tinggi negeri dan swasta DIY. Tercatat sebanyak 38 perguruan tinggi yang selanjutkan akan dikomunikasikan dengan LLDIKTI.
“Sementara ada 388 mahasiswa dari 31 PTS yang dilaporkan LLDIKTI,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Rustamaji, menyebutkan bahwa UGM telah melakukan pendataan secara komprehensif terhadap mahasiswa terdampak di lingkungan kampus. “Di UGM, terdapat 218 keluarga mahasiswa terdampak. Pendataan kami lakukan secara menyeluruh, mulai dari bantuan biaya hidup, keringanan UKT, hingga kebutuhan psikososial, dan pendampingan konseling,” kata Rustamaji.
Pendataan sementara, mahasiswa yang terdampak berasal dari beberapa provinsi, antara lain 81 dari Aceh, 93 dari Sumatera Utara, dan 43 dari Sumatera Barat. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa sebagian masih tahap verifikasi di tingkat fakultas dan program studi. “Kami berupaya memastikan tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebutuhan bantuan mahasiswa terdampak cukup beragam, mulai dari keringanan UKT, bantuan biaya hidup harian, bantuan makan, paket sembako, bantuan biaya kos, hingga pendampingan konseling. Bahkan, beberapa mahasiswa berpotensi mengajukan cuti akademik akibat kondisi keluarga di daerah asal yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun sumber penghasilan.
Sebagai langkah awal, UGM telah menyalurkan sejumlah bantuan, diantaranya voucher makan dua kali sehari, voucher makan di kantin Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta bantuan finansial sebesar Rp2 juta per mahasiswa yang disalurkan pada periode Desember hingga Januari untuk mahasiswa Fakultas Farmasi.
Pemda DIY dan UGM sepakat untuk terus melakukan sinkronisasi data dengan perguruan tinggi lain, LLDIKTI, serta perangkat daerah terkait. Aria menegaskan bahwa Pemda DIY akan hadir untuk mahasiswa yang terputus secara ekonomi dan psikososial. “DIY adalah kota pelajar dan menjadi rumah bagi mahasiswa dari berbagai daerah. Karena itu, para mahasiswa tetap menjadi perhatian kami,” kata Aria.