KBRN, Surabaya: Fastpay mencatatkan tonggak penting dengan menembus 2 juta pengguna di Google Play Store. Di balik capaian ini, Fastpay tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan angka, tetapi juga tentang cerita agen yang bertahan, jatuh, lalu bangkit kembali bersama teknologi yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Salah satu cerita itu datang dari Hanum (33), pemilik Konter sekaligus Pangkas Rambut Awang di Kota Tangerang. Selama bertahun-tahun, Hanum menjalankan dua usaha dalam satu ruko. Ia melayani transaksi pulsa dan perbaikan ponsel, sekaligus menerima pelanggan pangkas rambut yang dikelola bersama suaminya.
“Sebelum pandemi, konter itu ramai. Sehari bisa sampai 50 transaksi pulsa,” ujar Hanum dalam rilis diterima RRI, Selasa (16/12/2025).
Ia melanjutkan, saat itu, bisnis berjalan stabil. Modal berputar. Stok pulsa untuk satu provider bahkan bisa mencapai jutaan rupiah, terutama saat momen Lebaran.
Namun situasi berubah drastis ketika pandemi melanda. Pembatasan aktivitas dan perubahan perilaku masyarakat memukul bisnis konter. Layanan WiFi rumahan bermunculan. Aktivitas warga berpindah ke rumah. Transaksi pulsa dan paket data menurun tajam.“Untuk mencapai 20 transaksi saja rasanya berat,” kata Hanum.
Ia tidak menyebut usahanya bangkrut, tetapi mengakui kondisi tersebut membuat bisnisnya terseok-seok. Aksesori ponsel yang dulu cepat terjual kini menumpuk di gudang. Modal yang sebelumnya berani ia putar, kini ia tahan karena takut tidak kembali.
Meski begitu, Hanum memilih bertahan. Ia tetap membuka konter. Ia tetap melayani pelanggan. Ia tetap menjaga usahanya hidup, meski hasilnya tidak lagi sama seperti dulu.
Titik balik datang dari hal yang sederhana: pertanyaan pelanggan. Setiap pagi, warga yang datang ke konter sering bertanya apakah ia bisa melayani transfer uang. Agen BRILink yang berada dua ruko dari tempat usahanya baru buka menjelang siang. Kebutuhan masyarakat muncul lebih cepat daripada layanan yang tersedia.
“Dari situ saya kepikiran. Kenapa tidak coba buka layanan transfer?” ujar Hanum.
Keputusan itu tidak datang tanpa keraguan. Hanum sempat maju-mundur. Ia memikirkan sistem administrasi. Ia memikirkan risiko. Ia memikirkan persaingan yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempat usahanya. Namun satu hal terus mengganggu pikirannya: jika tidak mencoba, usahanya tidak akan berkembang.
Dengan niat untuk bangkit, Hanum akhirnya mendaftarkan diri sebagai agen Fastpay. Ia tidak langsung berharap hasil besar. Ia hanya ingin usahanya kembali relevan dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
Langkah itu mengubah cara Hanum menjalankan bisnis. Ia mulai menawarkan layanan transfer dan pembayaran kepada pelanggan pangkas rambut. Ia memanfaatkan trafik yang sudah ada. Ia tidak menutup usaha lama, tetapi memperluas fungsinya.
“Sekarang setiap orang yang datang potong rambut saya ceritakan kalau di sini sudah bisa transfer dan layanan lain,” kata Hanum.
Fastpay memberi Hanum ruang untuk menambah layanan tanpa menambah beban besar. Ia tidak perlu stok besar. Ia tidak perlu sistem rumit. Ia hanya perlu keberanian untuk mencoba dan konsistensi melayani.
Cerita Hanum mencerminkan perjalanan banyak agen Fastpay di berbagai daerah. Mereka bukan pebisnis besar. Mereka bukan pemain modal kuat. Mereka adalah pelaku usaha kecil yang beradaptasi di tengah perubahan zaman.
Fastpay mencatat bahwa pertumbuhan hingga 2 juta pengguna tidak terlepas dari peran agen-agen lokal seperti Hanum. Aplikasi ini berkembang karena agen memanfaatkannya untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat: transfer uang, pembayaran tagihan, dan layanan keuangan harian yang mudah diakses.
“Fastpay tumbuh karena agen bergerak. Agen bergerak karena masyarakat membutuhkan layanan yang dekat dan praktis,” ujar Aditiya Sulistiawan, Manager Fastpay.
Fastpay memposisikan diri sebagai mitra usaha, bukan sekadar aplikasi transaksi. Platform ini hadir untuk memperkuat usaha yang sudah ada, bukan menggantikannya. Konsep inilah yang membuat Fastpay relevan di tengah persaingan layanan digital yang semakin padat.
Di balik angka 2 juta pengguna, Fastpay melihat jutaan cerita perjuangan. Cerita tentang usaha yang hampir padam. Cerita tentang keberanian mencoba lagi. Cerita tentang bangkit bukan karena siap, tetapi karena harus.
Bagi Hanum, Fastpay bukan sekadar alat. Fastpay menjadi jalan untuk tetap bertahan dan melangkah maju, bahkan ketika usaha berada di titik terendah.
“Kalau tidak dicoba, tidak akan tahu hasilnya,” kata Hanum. Kalimat sederhana itu kini mewakili semangat banyak agen Fastpay di seluruh Indonesia.