Dampak Sedentary Lifestyle bagi Kesehatan
- by Eka Putriyana Widyastuti
- Editor Wahyudi
- 18 Jan 2026
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong - Tidak dipungkiri dengan adanya perkembangan teknologi membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun tanpa disadari juga bahwa perkembangan teknologi ini juga berisiko terhadap kesehatan karena mempengaruhi gaya hidup seseorang. Banyak orang yang justru melakukan gaya hidup sedentary lifestyle atau kurang gerak. Gaya hidup ini ditandai dengan adanya aktivitas fisik yang sangat minim sebagai contoh duduk terlalu lama saat bekerja, sering menggunakan gawai, jarang berolahraga, terlalu banyak belajar di balik bangku, dan lain sebagainya.
Sedentary lifestyle adalah pola hidup dengan pengeluaran energi yang rendah. Ciri-cirinya adalah dimana seseorang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk duduk atau berbaring dan jarang melakukan aktivitas fisik. Kebiasaan ini sering tidak disadari terutama bagi pekerja kantoran, pelajar, dan pengguna teknologi digital.
Menerapkan gaya hidup sedentary atau kurang gerak bisa memicu berbagai masalah kesehatan. Salah satu dampak utamanya adalah peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung. Tubuh yang jarang bergerak akan mengalami penurunan metabolism sehingga pembakaran kalori akan menjadi tidak optimal.
Tidak hanya itu, kebiasaan duduk terlalu lama juga menyebabkan gangguan pada sistem otot dan tulang. Tak jarang orang yang sering duduk akan mengalami nyeri punggung, leher kaku, serta melemahnya sistem otot dan sendi. Jika dibiarkan dalam waktu lama akan mengurangi kekuatan dan fleksibilitas tubuh.
Sedentary lifestyle juga dapat mengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. Kurangnya aktivitas dapat meningkatkan risiko stress, cemas, dan depresi. Hal ini terjadi karena sebenarnya aktivitas fisik dapat melepas hormone endorphin yang berperan mengurangi stress dan memperbaiki suasana hati.
Untuk mencegah dampak buruk sedentary lifestyle dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti berdiri dan melakukan peregangan setiap 30–60 menit saat duduk lama, meluangkan waktu untuk berolahraga, memilih berjalan kaki atau menggunakan tangga daripada lift, dan