Unsoed Bina Lebih dari 3 Ribu UMKM
- by Damara Abella Sakti
- Editor Candranita Purbani
- 15 Jan 2026
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Pusat Inkubator Bisnis Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto telah membina lebih dari 3.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tersebar di berbagai daerah. Tidak hanya di wilayah Banyumas Raya, pendampingan tersebut juga menjangkau sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.
Ketua Pusat Inkubator Bisnis LPPM Unsoed, Nur Wijayanti, mengatakan bahwa hingga tahun 2025 tercatat lebih dari 3.000 UMKM di Banyumas Raya yang telah mendapatkan pendampingan. Selain itu, pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan pelaku usaha di berbagai daerah lain.
“UMKM yang terdata di tahun 2025 sudah lebih dari 3.000 untuk Banyumas Raya. Kami juga berkolaborasi dengan daerah di luar Banyumas. Pada 2024 misalnya, kami mendampingi UMKM di Sulawesi, Bali, hingga beberapa wilayah di Sumatera,” ujarnya.
Pendampingan yang diberikan meliputi berbagai aspek, mulai dari legalitas usaha, peningkatan kualitas produk, hingga literasi keuangan. Di era digital saat ini, pelaku UMKM juga didorong untuk mulai memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan usaha.
“Di awal tahun ini kami melakukan pendampingan produksi, seperti peningkatan kualitas produk UMKM. Selain itu ada juga pendampingan literasi keuangan, dari yang sebelumnya menggunakan laporan manual, kami arahkan secara bertahap menuju sistem digital,” jelas Yanti.
Menurut Yanti, tidak ada kriteria khusus bagi UMKM yang ingin bergabung. Pendampingan akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
“UMKM yang datang akan kami klasifikasikan sesuai tahapannya, mulai dari wirausaha baru, startup, berbasis teknologi, hingga usaha ultramikro, mikro, kecil, dan menengah. Ada yang baru merintis, ada juga yang sudah menengah tetapi membutuhkan pendampingan untuk ekspor,” katanya.
Ia menambahkan, sejak resmi berdiri sebagai pusat inkubator bisnis pada 2010 dan bahkan sejak 1999 dalam bentuk pendampingan informal lembaga ini telah memberikan dampak nyata bagi UMKM. Peran akademisi dinilai penting dalam mendorong inovasi dan penerapan keilmuan di dunia usaha.