KBRN, Pontianak: Kiprah seni tari Kalimantan Barat dinilai terus menunjukkan perkembangan positif, terutama di kalangan generasi muda. Hal tersebut mengemuka dalam program Suara Budaya Nusantara, siaran berjaringan nasional RRI Pro 4 se-Indonesia yang diisi oleh kolaborasi RRI Pontianak dan RRI Jakarta, Senin (15/12/2025), dengan tema Kiprah Seni Tari Kalbar.
Host RRI Pontianak, Yulanda, menyampaikan bahwa perkembangan seni tari di Pontianak masih terbilang aktif dan diminati generasi muda. Hal tersebut nampak dari banyaknya sanggar yang terus bertahan serta keterlibatan anak-anak muda dalam berbagai kegiatan seni.
“Kalau dari aku sendiri untuk kiprah seni tari sendiri sangat berkembang ya kalau untuk Kota Pontianak. Karena memang di Pontianak ini syukurnya anak-anak muda tuh masih ramai yang mencintai seni tari,” ujar Yulanda.
Ia juga menyinggung capaian Kalimantan Barat yang kerap mengirimkan delegasi seni ke ajang nasional, bahkan internasional, sebagai bukti bahwa seni tari daerah memiliki daya saing dan kualitas yang tidak kalah dengan daerah lain.
Narasumber utama, H. Yuza Yanis Chaniago, Ketua Lembaga Seni Bougenville, menjelaskan bahwa keberlanjutan seni tari Kalbar tidak terlepas dari peran sanggar yang konsisten melakukan pembinaan jangka panjang.
“Lembaga seni Bogenvil ini cikal bakalnya dari sebuah sanggar tari yang didirikan oleh orang tua kami, yang lahirnya pada 1984,” kata Yuza.
Ia menuturkan, Lembaga Seni Bougenville telah berkiprah di berbagai event seni berskala nasional dan internasional. Karya dan penampilan penarinya telah tampil di sejumlah negara sebagai duta budaya Kalimantan Barat dan Indonesia.
“Alhamdulillah, kami sudah beberapa kali tampil di luar negeri membawa misi budaya. Itu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk menjaga kualitas dan nilai tradisi,” ujarnya.
Menurut Yuza, kiprah hingga mancanegara tersebut tidak lepas dari pembinaan sejak usia dini. Sanggar Bougenville membuka ruang belajar tari bagi anak-anak sejak sekolah dasar, dengan jumlah peserta yang terus bertambah setiap tahunnya.
“Kebetulan tahun ini kita juga buka pendaftaran. Mulai dari 1 SD anggota kita sampai 150 anak yang belajar di Sanggar Bogenville,” katanya.
Ia juga menjelaskan kekhasan seni tari Kalimantan Barat yang dikenal dengan konsep Tidayu, yakni perpaduan budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu. Lembaga Seni Bougenville sendiri berfokus pada tari Melayu, namun tetap mengajarkan tari-tari Nusantara.
“Pengkhususannya memang di tari-tari Melayu, tetapi tidak menutup untuk pembelajaran tari-tari Nusantara. Kita dikenal dengan tari Tidayu, jadi gabungan antara Tionghoa, Dayak, dan Melayu,” ucapnya.
Salah satu tari ikonik Kalimantan Barat, Tari Sekapur Sirih, masih menjadi materi utama pembelajaran dan kerap ditampilkan dalam berbagai acara resmi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Tari Sekapur Sirih itu khusus untuk penyambutan tamu. Sampai sekarang anak-anak sekolah juga mempelajarinya, dari SD, SMP, sampai SMA,” ucap Yuza.
Menutup dialog, H. Yuza Yanis Chaniago menegaskan pentingnya perhatian pemerintah terhadap seniman dan sanggar sebagai ujung tombak pelestarian budaya.
“Seni apa pun tidak akan ada tanpa senimannya. Harapan kami pemerintah pusat dan pemerintah daerah lebih sangat memperhatikan lagi seniman-seniman hebat yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Program Suara Budaya Nusantara menjadi ruang penting pertukaran gagasan lintas daerah, sekaligus memperkuat peran seni tradisi sebagai identitas budaya yang mampu bersaing di tingkat global.
Baca juga: Sanggar Sang Suanang Bertahan di Tengah Tantangan