KBRN, Pekanbaru : Menjadi perokok pasif bukanlah pilihan, melainkan kondisi di mana seseorang terpaksa menghirup asap rokok dari orang lain di sekitarnya. Meskipun tidak merokok secara langsung, risiko kesehatan yang dihadapi perokok pasif hampir sama besarnya dengan perokok aktif. Asap yang dilepaskan dari ujung rokok yang terbakar (sidestream smoke) justru mengandung konsentrasi zat beracun yang lebih tinggi dibandingkan asap yang dihirup langsung oleh perokok. Dikutip dari laman Direktorat P2PTM Kementerian Kesehatan RI, memahami ancaman ini sangat penting untuk melindungi diri dan keluarga dari kerusakan kesehatan jangka panjang yang tidak terlihat.
1. Konsentrasi Zat Beracun dalam Asap Rokok
Perokok pasif menghirup campuran asap yang mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, di mana ratusan di antaranya beracun dan sekitar 70 zat telah terbukti menyebabkan kanker. Menurut Kementerian Kesehatan RI, asap rokok yang keluar dari ujung rokok yang terbakar mengandung karbon monoksida lima kali lebih banyak dan tar serta nikotin tiga kali lebih banyak dibandingkan asap yang dihirup perokok aktif. Paparan ini sangat berbahaya karena zat-zat karsinogenik tersebut dapat dengan mudah masuk ke aliran darah dan merusak sel-sel tubuh orang di sekitar perokok.
2. Ancaman Penyakit Mematikan pada Orang Dewasa
Bagi orang dewasa yang tidak merokok, paparan asap rokok secara rutin secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sekitar 1,3 juta kematian per tahun disebabkan oleh paparan asap rokok orang lain. Paparan singkat sekalipun dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan pembuluh darah dan menyebabkan pembekuan darah, yang memicu serangan jantung. Kemenkes juga menegaskan bahwa perokok pasif memiliki risiko 25-30% lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner dibandingkan mereka yang tidak terpapar asap rokok.
3. Dampak Fatal pada Kesehatan Anak-anak
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap bahaya asap rokok karena organ pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan. Menurut data yang dikutip dari Jurnal Kesehatan Masyarakat, anak-anak yang terpapar asap rokok lebih sering mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, pneumonia, serta memicu serangan asma yang lebih parah. Selain itu, paparan asap rokok pada bayi meningkatkan risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS). Paparan asap rokok di lingkungan rumah menjadi penyebab utama terhambatnya pertumbuhan paru-paru pada anak-anak.
4. Tidak Ada Batas Aman Paparan Asap
Penting untuk dipahami bahwa tidak ada batas aman bagi paparan asap rokok; bahkan paparan dalam waktu singkat dapat menyebabkan kerusakan kesehatan yang nyata. Menjauhkan perokok ke ruangan lain atau membuka jendela tidak cukup efektif untuk menghilangkan residu racun yang menempel pada benda-benda di sekitar (thirdhand smoke). Oleh karena itu, penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan kesadaran perokok untuk tidak merokok di dalam rumah atau tempat umum adalah langkah krusial untuk melindungi hak sehat masyarakat luas.