Akademisi: Konten Viral Bagai Pisau Bermata Dua

  • by
  • Editor I Ketut Wiranata
  • 13 Jan 2026
  • Palu

KBRN, Palu: Viralitas pada suatu konten dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satu yang utama adalah algoritma, yang kini dinilai membentuk perilaku manusia, seiring dengan kehidupan yang semakin lekat dengan kemajuan teknologi digital.

Akademisi dan Pengamat Media Stephanus Bo'do menuturkan, algoritma cenderung memprioritaskan konten yang mampu memicu emosi manusia, sehingga konten viral yang hadir di genggaman pengguna kerap identik dengan konten emosional. Kondisi ini juga tidak terlepas dari perilaku pengguna yang terpacu oleh konten

clickbait yang memancing rasa penasaran.

"Jadi, informasi-informasi yang sifatnya konflik, drama, kemarahan, syok, itu biasanya lebih disukai dan lebih cepat menyebar," ujar Stephanus saat dihubungi via telepon, Senin 12 Januari 2026.

Baca Juga : Era Digital Tekanan Mental Menjadi Tantangan Konten Kreator

Olehnya, ia menyebut konten viral ibarat pisau bermata dua. Konten tersebut dapat memberi manfaat, ketika bersifat informatif dan mampu meningkatkan kesadaran serta pengembangan diri masyarakat. Namun di sisi lain, konten viral juga berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama dengan masifnya penyebaran hoaks dan perilaku bermasalah di media sosial.

“Di sisi lain ada hal-hal yang bersifat merusak, misalnya hoaks yang menyebar sangat cepat, bullying, menghakimi orang," ucapnya.

Selain itu, Stephanus menambahkan bahwa dampak negatif lain dari konten viral adalah munculnya fenomena FOMO atau

fear of missing out. Kecepatan arus informasi dan tren yang mudah diakses membuat sebagian masyarakat merasa tertinggal apabila tidak ikut mengikuti tren yang sedang berlangsung.Baca Juga : Pentingnya Mencari Lingkungan Positif Demi Wujudkan Ide

"Karena tren bisa dengan cepat diakses, orang merasa tertinggal kalau tidak ikut. Itu sisi negatif dari viralitas,” tutur Stephanus.

Untuk itu, Stephanus menegaskan literasi digital menjadi hal krusial yang perlu dipahami masyarakat. Literasi digital dinilai penting agar masyarakat mampu menjadi gatekeeper bagi dirinya sendiri dalam menyaring berbagai konten viral yang membanjiri media sosial.

Rekomendasi Berita