Lalu Syauki Maknai Mutasi Sebagai Amanah Kepemimpinan
- by Kholil Bisri
- Editor Hayatun Sofian
- 12 Jan 2026
- Mataram
KBRN, Mataram: Mutasi yang menempatkan Drs. H. Lalu Syauki MS, M.Pd. sebagai Kepala Mandrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Mataram dimaknai sebagai bagian dari penyegaran organisasi. Perpindahan tugas tersebut dinilai sebagai langkah strategis setelah pengabdian panjang di madrasah sebelumnya.
Syauki menilai mutasi bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ia menyebut pengabdiannya di MAN 2 Mataram telah berlangsung dalam waktu yang sangat panjang.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya diangkat sebagai aparatur sipil negara sejak 1995. Sejak saat itu, ia mengabdi penuh di MAN 2 Mataram hingga dimutasi pada 2025.
“Saya diangkat tahun 1995 dan dimutasi tahun 2025. Berarti saya berada di MAN 2 Mataram sejak awal pengangkatan sampai terakhir menjabat kepala madrasah, kurang lebih selama 30 tahun,” ungkapnya, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa masa pengabdiannya sebagai kepala madrasah di MAN 2 Mataram juga berlangsung cukup lama. Selama hampir 11 tahun, ia memimpin madrasah tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sebagai kepala madrasah, saya menjalaninya hampir 11 tahun. Waktu itu pun tidak melanggar aturan,” katanya.
Syauki menilai penyegaran memang diperlukan setelah masa kepemimpinan yang panjang. Menurutnya, dinamika organisasi menuntut adanya pergantian untuk memberi ruang pembaruan.
“Di MAN 2 sejauh ini memang harus ada penyegaran. Saya kira itu hal yang wajar dalam sebuah organisasi,” ujarnya.
Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB. Kesempatan memimpin MAN 1 Mataram dipandang sebagai bentuk kepercayaan baru.
“Saya berterima kasih kepada Pak Kakanwil karena masih memberi saya amanah. Amanah untuk menjadi pemimpin, menjadi nakhoda baru di MAN 1 Mataram,” ucapnya dengan rasa terima kasih.
Menurut Syauki, mutasi tidak ia maknai sebagai akhir pengabdian. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai awal membangun lingkungan baru.
Ia mengaku telah merasa nyaman di tempat tugas sebelumnya. Namun, penugasan baru diterima dengan sikap terbuka.
“Saya sebenarnya sudah merasa enjoy dan senang di tempat lama. Tapi kemudian diberi kepercayaan untuk membangun rumah baru ini,” tuturnya.
Syauki menyebut MAN 1 Mataram sebagai rumah baru yang ingin dibangun bersama. Ia membawa semangat yang sama seperti saat memimpin sebelumnya.
“Rumah baru ini ingin kita bangun menjadi madrasah yang maju, berprestasi, dan mendunia,” katanya.
Ia menegaskan bahwa mutasi dijalani sebagai bagian dari pengabdian. Setiap penugasan harus dijalankan dengan tanggung jawab penuh.
Dengan pengalaman panjang yang dimiliki, Syauki optimistis dapat beradaptasi. Mutasi dijadikan momentum untuk melanjutkan kontribusi di lingkungan baru.
Madrasah diharapkan mampu berkembang secara bertahap. Kepemimpinan baru ingin membawa MAN 1 Mataram tumbuh tanpa kehilangan identitas.