Fakhren Nukha Ungkap Review Artikel Pintu Tembus Scopus
- by Azzahra Nuraini A
- Editor Rio Perdana
- 19 Jan 2026
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mahasiswa kerap dihadapkan pada tantangan publikasi ilmiah, terutama ketika berbicara tentang jurnal internasional bereputasi seperti Scopus. Tidak sedikit yang menganggap publikasi internasional sebagai sesuatu yang sulit, mahal, dan hanya dapat dicapai oleh peneliti senior. Padahal, dengan strategi yang tepat, mahasiswa memiliki peluang yang realistis untuk mulai menembus publikasi internasional sejak dini.
Menjawab keresahan tersebut, House of Lumind melalui program Journal Club kembali membuka ruang diskusi seputar peluang publikasi ilmiah. Pada sesi kali ini, diskusi difokuskan pada jalur publikasi internasional yang kerap luput dipertimbangkan mahasiswa, yakni melalui penulisan review article.
Dalam sesi bertajuk “Menembus Publikasi Internasional: Review Article sebagai Langkah Awal Menuju Jurnal Scopus”, pemateri Fakhren Nukha Zalfa mengulas strategi awal yang dapat ditempuh mahasiswa untuk mulai membangun rekam jejak publikasi internasional secara bertahap.
Fakhren menjelaskan bahwa jurnal terindeks Scopus sering kali dianggap menakutkan bagi mahasiswa karena standar penilaian yang ketat dan persaingan yang tinggi. Namun menurutnya, publikasi internasional tidak selalu harus dimulai dari riset eksperimental berskala besar atau penelitian dengan kebutuhan data primer yang kompleks.
“Review article tidak menuntut data eksperimen primer yang kompleks atau mahal, tetapi menekankan pada kemampuan analisis, sintesis, dan pemetaan riset. Mahasiswa biasanya sudah terbiasa membaca banyak literatur, sehingga review menjadi ruang yang realistis untuk menunjukkan
critical thinking,” ujar Fakhren.
“Selama dilakukan secara sistematis dan berbasis referensi mutakhir, review article justru sangat dihargai oleh jurnal internasional.”
Ia menegaskan bahwa review article dapat menjadi pintu masuk yang lebih ramah bagi mahasiswa. Melalui artikel jenis ini, penulis dituntut mampu membaca secara kritis, membandingkan hasil penelitian, serta menyusun sintesis yang menunjukkan pemahaman mendalam terhadap suatu topik, tanpa harus memiliki data primer yang kompleks.
Namun demikian, Fakhren juga mengingatkan bahwa menulis review article bukan tanpa tantangan. Salah satu kesalahan yang paling sering ditemui adalah kecenderungan berhenti pada rangkuman.
“Banyak mahasiswa masih terjebak pada pola ‘si A meneliti ini, si B meneliti itu’, tanpa menyatukan temuan-temuan tersebut dalam satu narasi ilmiah yang utuh,” jelasnya.
“Review yang baik harus menunjukkan pola, perbandingan, gap penelitian, dan arah riset ke depan, bukan sekadar kompilasi referensi. Tantangan terbesarnya ada pada penentuan novelty, sudut pandang baru, atau kontribusi ilmiah tambahan.”
Dalam sesi tersebut, Fakhren juga membagikan tips awal memilih topik review yang berpeluang diterima jurnal internasional. Menurutnya, pemilihan topik menjadi fondasi utama yang menentukan kualitas dan posisi ilmiah sebuah artikel.
“Pilih topik yang spesifik, relevan secara global, dan sedang berkembang. Hindari topik yang terlalu luas atau sudah terlalu sering direview,” ungkapnya.
“Mulailah dari topik yang benar-benar dipahami dan diminati, lalu perkecil ruang lingkupnya. Dari situ lakukan pemetaan literatur untuk melihat pola, perbedaan temuan, dan celah penelitian yang belum banyak dibahas.”
Ia menambahkan bahwa penyesuaian dengan jurnal target sebaiknya tidak dilakukan di tahap awal.
“Fokus dulu pada arah dan kontribusi review. Penyesuaian dengan jurnal bisa dilakukan di tahap akhir, setelah posisi ilmiahnya jelas,” katanya.
“Langkah praktisnya, cek jurnal target dan lihat artikel review dalam 3–5 tahun terakhir, lalu cari celah—bisa dari pendekatan baru, konteks aplikasi berbeda, atau integrasi lintas disiplin. Topik yang baik bukan hanya yang ramai, tetapi yang punya posisi ilmiah yang jelas.”
Melalui diskusi ini, peserta Journal Club diajak melihat publikasi Scopus sebagai proses jangka panjang yang dapat direncanakan sejak mahasiswa. Mulai dari membiasakan diri membaca jurnal bereputasi, memahami standar penulisan akademik internasional, hingga membangun konsistensi topik riset.
Sesi ini memberikan perspektif strategis bahwa publikasi internasional bukan tujuan instan, melainkan hasil dari perencanaan matang, konsistensi akademik, dan kesiapan riset. Dengan pendekatan yang tepat, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pembaca ilmu, tetapi juga dapat menjadi kontributor aktif dalam percakapan ilmiah global.