Filosofi Joga Bonito Ala Brasil
- by DYAKSA ANGGALOKA MUISCADAFIA
- Editor Gandi Lukmanto
- 19 Jan 2026
- Jember
RRI.CO.ID, Jember: Jogo Bonito yang berarti “bermain dengan indah” dalam bahasa Portugis, merupakan istiah yang lekat dengan gaya bermain atraktif dan menghibur dalam sepak bola. Menurut ulasan
onefootball.com, konsep ini mulai dikenal luas dalam folklore sepak bola dunia sejak Brasil mengadopsinya sebagai filosofi bermain pada era 1950-an.Brasil mengembangkan Joga Bonito sebagai pendekatan bermain yang menekankan kesenangan, kreativitas, dan keindahan, tanpa meninggalkan efektivitas. Filosofi ini melahirkan salah satu gaya sepak bola paling sukses sepanjang sejarah.
Onefootball.com mencatat bahwa Joga Bonito mengedepankan kemampuan individu, keberanian menghadapi lawan satu lawan satu, serta kebebasan berekspresi di lapangan.Berbeda dengan pendekatan Juego de Posición yang berkembang di Spanyol dan Barcelona, yang berfokus pada penguasaan bola, Joga Bonito tidak menjadikan penguasaan bola sebagai tujuan utama. Umpan digunakan semata-mata untuk menciptakan peluang dan mencetak gol. Filosofi Jogo Bonito lebih menekankan efektivitas serangan ketimbang dominasi penguasaan permainan.
Pada dasarnya, Joga Bonito bukanlah strategi kaku, melainkan sebuah pola pikir. Tanggung jawab berada pada individu pemain untuk menggunakan teknik dan kreativitas, tidak hanya demi mencetak gol, tetapi mencetak gol yang indah. Filosofi ini diwariskan lintas generasi dalam Tim Nasional Brasil. Salah satu tokoh kuncinya adalah Mário Zagallo, yang menurut
onefootball.com, menjadi sosok pertama yang menjuarai Piala Dunia FIFA baik sebagai pemain maupun pelatih.Saat menjadi pelatih, Zagallo membawa pembaruan penting dalam penerapan Joga Bonito. Ia tidak membiarkan unsur “bersenang-senang” berjalan tanpa arah. Sebaliknya, ia memadukan keindahan dengan kedisiplinan taktik Zagallo menyempurnakan Joga Bonito dengan pembagian peran yang jelas dan struktur permainan yang matang, membuat Brasil tampil dominan sekaligus menghibur.
Zagallo menerapkan formasi 4-2-4 sebagai dasar, dengan deretan pemain berbakat seperti Pelé, Tostão, Jairzinho, Rivellino, Gérson, dan Carlos Alberto. Tostão berperan sebagai
false nine yang sering turun ke lini tengah, membuka ruang bagi Pelé dan Jairzinho. Rivellino beroperasi sebagai sayap tidak konvensional yang fleksibel bergerak ke tengah. Inovasi taktik ini tergolong radikal pada masanya.Namun, identitas Joga Bonito tidak sepenuhnya lahir dari taktik. Jurnalis sekaligus pelatih Brasil, João Saldanha, pernah menyatakan bahwa “sepak bola Brasil adalah permainan yang dimainkan dengan irama musik”. Ritme musik tersebut terinspirasi dari seni bela diri Capoeira, yang berkembang di kalangan budak Afrika di Brasil sebagai bentuk ekspresi kebebasan melalui gerak tubuh.
Akar Joga Bonito memang berawal dari masa kelam perbudakan, ketika permainan dilakukan secara sembunyi-sembunyi sebagai sarana ekspresi diri. Dari sana lahir sepak bola yang mengalir bebas, penuh improvisasi, dan sarat emosi. Filosofi ini kemudian diadopsi secara nasional dan menghasilkan generasi emas Brasil, terutama pada Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970.
Di era modern, sepak bola semakin terorganisasi, kompetitif, dan sarat kepentingan bisnis. Joga Bonito yang mengedepankan kesenangan kerap dianggap bertentangan dengan tuntutan sepak bola profesional saat ini. Meski begitu, gaya bermain Brasil pada Piala Dunia 1970 tetap dikenang sebagai simbol sepak bola ideal karena kebebasan, kreativitas, dan efektifitasnya.Dengan lima gelar Piala Dunia, Brasil menjadi negara tersukses dalam sejarah turnamen tersebut. Tiga gelar awal mereka diraih berkat penerapan prinsip Joga Bonito. Hingga kini, filosofi ini masih menjadi identitas yang melekat kuat pada Brasil di mata dunia sepak bola.