Berita Lumajang

KBRN, Lumajang: Pagi selalu datang dengan tenang di Situs Selogending. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, menyelimuti susunan batu yang berdiri dalam diam. Di tempat ini, langkah kaki seolah diminta untuk lebih pelan, seakan alam mengingatkan bahwa setiap tamu harus datang dengan sikap hormat.

Di Kabupaten Lumajang, Selogending bukan sekadar ruang sejarah. Ia adalah lanskap batin tempat peradaban lama meninggalkan jejaknya. Batu-batu dan punden berundak di kawasan ini menyimpan cerita tentang manusia Nusantara yang telah lama memahami keseimbangan hidup, jauh sebelum dunia modern merumuskannya dalam istilah ilmiah.

Keheningan Selogending menyimpan gema masa lalu. Situs ini diyakini telah ada sejak zaman megalitikum. Jejak peradaban itu terlihat dari susunan batu yang tidak dibuat sembarangan, melainkan ditata dengan kesadaran spiritual dan pengetahuan ruang yang matang.

Gatot, Romo Dukun sekaligus juru kunci Situs Selogending, menyebut kawasan ini sebagai salah satu cikal bakal peradaban leluhur Nusantara. “Selogending bukan hanya tinggalan sejarah, tetapi warisan nilai hidup yang terus berbicara kepada generasi sekarang,” ujarnya lirih.

Menurut Gatot, setiap sudut Selogending menyimpan pesan kehidupan. Punden berundak dan batu-batu besar menjadi bukti bagaimana leluhur membangun ruang sakral untuk menata hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan semesta. “Leluhur kita hidup dengan penuh kasadaran, tidak serakah, dan selalu menjaga keseimbangan,” kata dia dalam keterangannya, Sabtu (10/1/2026).

Langkah pertama pengunjung akan bertemu dengan petilasan Dewi Sri atau Mbok Sri Sedono. Sosok ini dikenal sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan. Kehadirannya menegaskan kuatnya ikatan masyarakat agraris Nusantara dengan tanah dan hasil bumi.

“Dewi Sri bukan tentang kekayaan materi. Ia adalah simbol rasa syukur. Leluhur mengajarkan bahwa hidup cukup adalah hidup yang seimbang dengan alam,” tutur Gatot.

Di hadapan petilasan itu, tersirat pesan bahwa kehidupan tidak diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa bijak manusia menjaga apa yang telah diberikan alam.

Di sisi kanan pintu masuk, berdiri petilasan Mbah Tejo Gedang yang dipercaya sebagai penjaga kawasan. Gatot menjelaskan bahwa keberadaan penjaga ini mengajarkan etika. “Sebelum masuk ruang sakral, manusia harus menata niat dan perilaku,” ujarnya.

Sementara di sisi kiri, petilasan Mbah Tejo Kusumo menghadirkan simbol Linggayoni. Lambang bapak dan ibu atau Bopo Biyung ini menjadi pengingat asal-usul kehidupan. “Semua bermula dari keseimbangan laki-laki dan perempuan, dari situlah kehidupan diteruskan,” kata Gatot.

Menurutnya, Linggayoni bukan simbol pemujaan, melainkan tuntunan etika hidup. “Leluhur ingin manusia ingat asalnya, agar tidak sombong dan tidak lupa tanggung jawab,” ujarnya menegaskan.

Di bagian tengah kawasan Selogending, terdapat petilasan Mbah Bukulon. Pada masa lalu, tempat ini menjadi pusat ritual pemujaan dan ungkapan syukur. “Di sinilah leluhur mengucap terima kasih atas panen dan kehidupan,” kata Gatot.

Ritual di Selogending, lanjut Gatot, lahir dari kesadaran, bukan ketakutan. “Leluhur tidak menyembah dengan rasa takut, tapi dengan rasa hormat dan syukur,” ucapnya.

Keberadaan punden berundak menjadi penanda kuat kebudayaan megalitikum. Struktur ini bukan buatan masa kini. “Ini asli, tidak direkayasa. Tanah dan batu ini sudah tersusun sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu,” jelas Gatot.

Menapaki undakan demi undakan menuju bagian atas situs, suasana terasa semakin hening. Di titik ini berdiri petilasan Bahwadung Prabu atau Wadung Prabu, sebuah batu tegak yang dimaknai sebagai simbol kepemimpinan.


“Kepemimpinan menurut leluhur adalah tanggung jawab menjaga keseimbangan, bukan kekuasaan untuk menindas,” ujar Gatot.

Ia menyebut, sejumlah tokoh besar pada masa kerajaan pernah singgah di Selogending. Salah satunya Prabu Siliwangi. “Jejaknya ditandai Pandan Betawi yang sampai sekarang masih tumbuh di sini,” ungkapnya.

Namun, inti makna Selogending justru terletak pada namanya. Selo berarti batu, sementara gending dimaknai sebagai hitungan, nyanyian, atau pujian. Dalam falsafah Jawa, watu dimaknai sebagai waton, atau tuntunan hidup. “Batu-batu ini adalah pengingat hidup, bukan untuk disembah,” tegas Gatot.

Seiring perjalanan waktu, Situs Selogending mengalami pemugaran agar tetap lestari. Meski demikian, nilai utamanya tetap dijaga. “Yang penting bukan sekadar batunya, tapi ajaran yang diwariskan,” kata Gatot.

Masuknya berbagai agama dan keyakinan tidak menghapus makna Selogending. “Leluhur tidak pernah mengajarkan perpecahan. Semua yang datang ke sini adalah saudara,” ujarnya.

Kini, Selogending terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering lupa pada akar, batu-batu tua itu tetap setia berbisik, mengajak manusia kembali pada kesederhanaan, keseimbangan, dan tuntunan hidup yang hakiki. (MC Kab. Lumajang/Ard/An-m)

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita