Ubi Jalar Madu, Cemilan yahg Dibeli Berulang
- by Taufik Usman
- Editor Ferry Apantu
- 12 Jan 2026
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo: Salah satu kekuatan utama ubi jalar madu adalah kedekatannya dengan kebiasaan konsumsi masyarakat. Ia bukan makanan “sekali coba”, melainkan camilan yang dibeli berulang. Banyak konsumen membeli ubi madu karena alasan praktis: hangat, mengenyangkan, dan rasanya konsisten.
Dalam konteks bisnis UMKM, pola konsumsi seperti ini jauh lebih aman dibanding produk yang bergantung pada tren. Penjualan mungkin tidak melonjak drastis, tetapi cenderung stabil. Inilah tipe usaha yang sering disebut pelaku UMKM sebagai “laku terus, meski pelan”.
Ubi jalar madu juga fleksibel waktu konsumsinya. Bisa dijual sore hingga malam, di depan rumah, pinggir jalan, atau melalui sistem pre-order harian. Fleksibilitas waktu ini memudahkan UMKM menyesuaikan usaha dengan aktivitas utama lainnya.
Segmentasi Pasar yang Relatif Luas
Tanpa disadari, ubi jalar madu memiliki segmentasi pasar yang cukup luas. Keluarga membeli untuk camilan rumah, pekerja membelinya sebagai pengganjal lapar sepulang kerja, hingga anak muda yang menjadikannya teman nongkrong sederhana.
Bagi UMKM, kondisi ini mengurangi kebutuhan diferensiasi yang terlalu rumit. Produk bisa dijual dalam ukuran kecil untuk konsumsi personal atau ukuran lebih besar untuk dibagi bersama. Kemasan sederhana pun masih diterima, selama produk disajikan hangat dan rasanya konsisten.
Beberapa pelaku usaha bahkan menemukan pasar langganan, seperti kantor kecil, warung kopi, atau lingkungan kos. Pola pembelian rutin dari segmen ini membantu menjaga volume penjualan harian.
Modal Usaha: Rendah, Tapi Tetap Perlu Perhitungan
Dari sisi permodalan, usaha ubi jalar madu tergolong ramah bagi UMKM pemula. Bahan baku mudah diperoleh dari pasar atau petani lokal, peralatan sederhana, dan tidak membutuhkan teknologi rumit. Inilah alasan banyak usaha ubi madu tumbuh secara organik dari skala sangat kecil.
Namun, rendahnya modal bukan berarti tanpa perhitungan. Kualitas bahan baku sangat menentukan hasil akhir. Ubi dengan kualitas kurang baik bisa menghasilkan rasa manis yang tidak konsisten, sehingga memengaruhi kepercayaan pelanggan.
UMKM yang bertahan biasanya memiliki satu kebiasaan penting: menjaga pasokan dari sumber yang relatif sama dan memahami karakter bahan bakunya. Konsistensi inilah yang membedakan usaha yang sekadar coba-coba dengan usaha yang berumur panjang.
Tantangan Utama: Konsistensi dan Diferensiasi Ringan
Meski terlihat sederhana, usaha ubi jalar madu tetap memiliki tantangan. Salah satunya adalah menjaga rasa yang konsisten setiap hari. Perbedaan ukuran ubi, kadar air, dan waktu pemasakan bisa memengaruhi hasil akhir.
Tantangan lain adalah persaingan. Karena mudah ditiru, usaha sejenis sering muncul di lokasi yang sama. Di titik ini, UMKM tidak selalu perlu diferensiasi besar. Cukup dengan pelayanan ramah, kematangan yang pas, kebersihan, dan ketersediaan produk yang konsisten.
Beberapa pelaku usaha menambahkan sentuhan kecil seperti pilihan ukuran, paket campur, atau sistem pesan awal. Hal-hal sederhana ini sering kali cukup untuk mempertahankan pelanggan.
Usaha Lokal dengan Daya Tahan Panjang
Ubi jalar madu menunjukkan bahwa usaha berbasis pangan lokal tidak selalu harus kompleks untuk bertahan. Justru kesederhanaan, kedekatan dengan kebiasaan masyarakat, dan konsumsi berulang menjadi kekuatan utamanya.
Bagi UMKM, ubi jalar madu adalah contoh usaha yang realistis: bisa dimulai kecil, dijalankan bertahap, dan tumbuh mengikuti permintaan. Ia mungkin bukan usaha dengan margin besar dalam waktu singkat, tetapi menawarkan kestabilansesuatu yang sering kali lebih berharga bagi pelaku usaha kecil.
Pada akhirnya, ubi jalar madu bukan sekadar jajanan hangat di sore hari. Ia adalah bukti bahwa produk lokal, ketika dikelola dengan tepat, mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi UMKM.