Awal Pekan, Rupiah Sudah Tembus Rp16.900/Dolar AS

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah makin melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Menurut Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,19 persen atau 32 poin menjadi Rp16.919 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Kamis 15 Januari 2026, rupiah juga melemah 0,18 persen menjadi Rp16.895 per dolar AS. Hal ini berkorelasi erat dengan kinerja Surat Berharga Negara (SBN) yang belum menunjukkan kenaikan berarti.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan porsi kepemilikan asing di SBN masih tertahan di kisaran 13-14 persen. "Hal ini disebabkan oleh meningkatnya risiko fiskal pemerintah," ujarnya, Senin (19/1/2026).

Baca juga:

Tensi Geopolitik Tetap Tinggi, Rupiah Berbalik Melemah

Baca juga:

Jelang Libur Panjang, Penguatan IHSG Berlanjut ke 9.075

Saat ini imbal hasil SBN tenor 10 tahun bergerak turun di kisaran 6,2-6,3 persen. Sementara itu terjadi aliran keluar modal asing dari pasar modal sebesar Rp7,7 triliun pada pekan kedua Januari 2026.

"Hal ini didorong oleh outflow SBN dan SRBI di tengah sentimen global risk-off (menghindari risiko)," ujar Rully. Meskipun, lanjut dia, sebagian sudah tertahan oleh arus masuk ekuitas.

Rully menambahkan nilai tukar rupiah sudah melemah hingga 1,2 persen sejak awal Januari 2026. Ini disebabkan menguatnya mata uang dolar AS dan naiknya harga emas di pasar global.

"Pasar secara umum memprakirakan Bank Indonesia (BI) dan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan Januari 2026," ucap Rully. BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur mengenai kebijakan suku bunga pada Rabu 21 Januari 2026.

Terbatasnya transmisi dari lima kali penurunan suku bunga pada 2025 membuat ruang pelonggaran kian sempit. Ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih di bawah target antara 8-11 persen.

Rekomendasi Berita