IHSG Menguat di Pembukaan, Cermati Arah Pergerakannya

RRI.CO.ID - Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau dalam pembukaan perdagangan awal pekan ini. Dari pantauan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka naik 0,15 persen ke level 9.098.

Sebelumnya, pada Kamis sebelum libur akhir pekan kemarin, IHSG ditutup naik 0,47 persen atau 42,82 poin ke level 9.075. Penguatan IHSG disertai net buy (beli bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp474 miliar,

Menurut catatan BNI Sekuritas, saham-saham yang paling banyak dibeli asing adalah BBRI, PTRO, BMRI, INCO dan JPFA. Hari ini, IHSG diperkirakan stagnan setelah akhir pekan kemarin kembali mencapai level tertinggi.

"IHSG berpotensi stagnan hari ini, dan akan bergerak di level support pada rentang 9.000-9.040. Sedangkan di level resist, IHSG diperkirakan bergerak di rentang 9.100-9.150," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Senin (19/1/2026).


Baca Juga :

Jelang Libur Panjang, Penguatan IHSG Berlanjut ke 9.075
Kadin Indonesia: Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4-5,5 Persen

Sentimen pasar modal hari ini masih akan dipengaruhi oleh perkembangan bursa saham global. Bursa saham di AS libur pada hari ini, karena libur nasional peringatan Hari Martin Luther King Jr.

Namun, pada perdagangan akhir pekan kemarin, indeks saham utama di Wall Street, menurut Fanny, ditutup stagnan. "Investor mencermati berita bahwa Trump kemungkinan akan mempertahankan penasihat ekonomi Kevin Hassett," ujarnya.

Berita itu menurunkan taruhan pasar bahwa Hassett akan menggantikan Ketua The Fed Jerome Powell. Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia, ditutup beragam akhir pekan kemarin.

"Investor di Asia mengamati saham-saham terkait chip setelah AS mencapai kesepakatan perdagangan dengan Taiwan. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, perusahaan semikonduktor Taiwan setuju menginvestasikan sekitar USD250 miliar," ucap Fanny.

Investasi sebesar itu diberikan untuk meningkatkan kapasitas produksi AS. Selain itu, juga sebagai imbalan atas penurunan tarif “timbal balik”.


Rekomendasi Berita