Pernyataan BI Soal Intervensi Lanjutkan Penguatan Rupiah
- by Magdalena Krisnawati
- Editor Syahrizal Budi Putranto
- 14 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Pasar sepertinya merespons positif pernyataan Bank Indonesia (BI) yang dirilis Rabu (14/1/2026) karena penguatan rupiah berlanjut hingga penutupan perdagangan. Menurut Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,07 persen atau 11 poin menjadi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS).
BI sebelumnya menegaskan konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disampaikan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, Rabu (14/1/2026).
Menurut dia, pergerakan mata uang global pada awal 2026 banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan-tekanan di pasar keuangan dunia. "Misalnya eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral negara-negara maju, serta ketidakpastian kebijakan moneter The Fed," ujarnya.
Sementara itu, lanjut Erwin, kebutuhan valuta asing di dalam negeri juga meningkat pada awal tahun. "Kondisi inilah yang mendorong pelemahan rupiah, meskipun ini sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang terdampak sentiment global," katanya.
Baca juga:
Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bisa Jaga Stabilitas RupiahBaca juga:
BI Pastikan Stabilitas Rupiah Terjaga dengan Langkah IntervensiUntuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI melakukan langkah intervensi di pasar domestik maupun luar negeri. "Ini dilakukan melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika," ujar Erwin.
Serta melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dalam negeri. "BI akan terus memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat," ucapnya.
Dari sisi eksternal, pergerakan nilai tukar rupiah pada Rabu (14/1/2026) dipengaruhi oleh rilis tingkat inflasi AS. Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan inflasi inti AS per Desember 2025 naik 0,2 persen secara bulanan.
Sedangkan secara tahunan, inflasi inti AS tercatat 2,6 persen, yang berarti di bawah perkiraan. "Hal ini memperkuat spekulasi penurunan suku bunga the Fed pada tahun ini sebanyak dua kali," ujar Ibrahim.
Menurut dia, risiko geopolitik juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Gejolak di Iran dengan campur tangan AS dikhawatirkan akan memicu ketidakstabilan di Timur Tengah.
Sementara di AS, pelaku pasar sedang mengkhawatirkan independensi bank sentral Federal Reserve atau The Fed. Ini karena ulah Presiden AS, Donald Trump, yang membuka penyelidikan kriminal dengan melibatkan Ketua The Fed, Jerome Powell.
"Para investor menjadi gelisah," kata Ibrahim. Namun, lanjut dia, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar kompak mendukung Powell untuk menjaga otonomi The Fed.