KBRN, Denpasar: Melakukan tes HIV penting bagi remaja agar mengetahui kondisi kesehatan mereka dan bisa mengambil tindakan yang tepat bila diperlukan. Edukasi tentang HIV dan cara tes yang aman membantu remaja memahami risiko, mencegah penularan, dan menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Banyak remaja menunda tes karena takut menghadapi stigma, diskriminasi, atau dampak penyakit terhadap masa depan. Padahal, mengetahui status HIV sejak dini sangat penting agar perawatan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.
Tes HIV sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama jika seseorang pernah berisiko tertular, misalnya melalui hubungan seksual tanpa perlindungan, penggunaan jarum suntik bersama, atau memiliki pasangan dengan status HIV yang tidak diketahui.
Selain itu, beberapa kondisi yang sebaiknya mendorong remaja melakukan tes dini antara lain:
- Pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS), seperti gonore, sifilis, atau herpes.
- Sering mengalami gejala yang tidak biasa dan berlangsung lama, seperti demam, pembengkakan kelenjar getah bening, atau penurunan berat badan tanpa alasan jelas.
- Memiliki pasangan dengan status HIV yang tidak diketahui atau berisiko tinggi.
- Menggunakan narkoba suntik atau berbagi jarum suntik.
Intan, relawan Kisara PKBI Bali, menekankan masyarakat untuk menghilangkan ketakutan melakukan tes. “Kita harus menghilangkan ketakutan di masyarakat, jadi ini tuh kunci menuju tes dan kita jadi tahu apa status kita saat ini negatif atau positif,” jelasnya.
Dengan pemahaman ini, remaja bisa lebih berani melakukan tes HIV dan menjaga kesehatan mereka. Edukasi yang tepat juga membantu masyarakat memahami bahwa HIV adalah kondisi kesehatan yang dapat dikontrol, bukan sesuatu yang menakutkan atau memalukan.