Riset UII: Pelatihan BHD Online Efektif Selamatkan Nyawa
- by Dyan Parwanto
- Editor Mahadevi Pramitha
- 13 Jan 2026
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Minimnya pertolongan pertama pada kasus henti jantung mendorong lahirnya inovasi pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) berbasis telehealth di Pontianak. Penelitian mahasiswa UII ini terbukti mampu meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi situasi darurat yang mengancam nyawa.
Ruhil Iswara, M.Kom, lulusan Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII, Konsentrasi Informatika Medis, melakukan inovasi melalui penelitian pemanfaatan telehealth untuk pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) di Kota Pontianak. Berdasarkan penelitiannya, telehealth terbukti secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan masyarakat umum dalam menghadapi situasi darurat henti jantung.
Ruhil mengatakan, di Indonesia kasus orang yang mengalami henti jantung banyak yang tidak mendapat pertolongan. Beberapa data yang ditemukannya menunjukkan korban-korban mengalami henti jantung hanya sekitar 40% yang mendapat bantuan. Jadi banyak sekali yang tidak tertolong atau tidak mendapat pertolongan atau tidak mendapat bantuan hidup dasar.
Kondisi ini lanjut Ruhil, terjadi karena masyarakat yang menemukan korban henti jantung kadang bingung, harus diapakan. Sehingga terkadang hanya menelepon rumah sakit atau ambulans yang proses ke lokasi tersebut memerlukan waktu. Waktu emas (golden time) ini sering kali terlewatkan sehingga berdampak pada kematian dan kerusakan-kerusakan organ.
"Jadi misalpun dapat diselamatkan pun itu sudah banyak sel-sel yang mati terutama sel-sel di otak. otak. Nah, kita melihat di sini masyarakat itu banyak yang masih belum tahu gitu bagaimana cara memberikan pertolongan," kata Ruhil, dalam konferensi pers, Senin, 12 Januari 2026.
Ruhil menyebutkan, selama ini sudah banyak pelatihan-pelatihan yang diberikan secara offline untuk bantuan hidup dasar, namun tidak bisa diakses seluruh orang. Padahal menurutnya banyak instruktur pelatihan bantuan hidup dasar yang tersertifikasi, termasuk dirinya.
Pentingnya pengetahuan tentang bantuan hidup dasar ini mendorong Ruhil bersama timnya membangun sebuah sistem pelatihan melalui telehealth yang merupakan layanan kesehatan jarak jauh menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan akses akses efisiensi dan efektivitas layanan kesehatan.
"Kebetulan saya bersama tim-tim yang merupakan instruktur pelatihan bantuan hidup dasar atau pelatihan BHD untuk bantu-bantu pasien yang henti jantung. Kita bentuk nih sebuah metode baru yang sifatnya online gitu, yang bisa diakses oleh masyarakat umum siapapun bisa akses gitu," ucap Ruhil.
Bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Pontianak, telehealth ini dijelaskan Ruhil, akan terpantau jumlah masyarakat yang sudah terpapar dengan informasi cara untuk memberikan bantuan hidup dasar, termasuk daerah-daerah mana saja yang masih sedikit paparannya. "Kebetulan kemarin responden kita itu sebanyak 60 responden dalam penelitian," ucapnya.
Hasilnya, telehealth terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta BHD, dengan rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 10,65 (pre-test) menjadi 26,58 (post-test). Kualitas sistem yang stabil (90 persen setuju), informasi yang relevan (95 persen setuju), dan dukungan Dinas Kesehatan Kota Pontianak (93,06 persen setuju) berkontribusi signifikan terhadap kepuasan pengguna (91,67 persen setuju).
Sebanyak 95 persen responden melaporkan peningkatan kesiapan mereka dalam menghadapi situasi darurat seperti henti jantung. Namun, hambatan seperti literasi digital rendah, dan kurangnya regulasi lokal perlu diatasi melalui sosialisasi, penguatan infrastruktur, dan penyusunan kebijakan pendukung untuk memastikan keberlanjutan program.
Tesis ini merupakan penelitian baru dalam konsentrasi informatika medis, Dosen Pembimbing Ruhil yang juga Dosen Jurusan Informatika FTI UII, Prof. Dr. Sri Kusumadewi menyampaikan, tema tesis yang dikembangkan mengenai telehealth ini digunakan sebagai salah satu tindakan preventif. Karena diketahui saat ini, kejadian henti jantung semakin banyak dialami dan tidak sedikit terlambat penanganan karena kekurangtahuan terkait Bantuan Hidup Dasar.
Selama ini lanjut Prof. Sri Kusumadewi, banyak pelatihan dilakukan dalam sebuah forum melibatkan tenaga kesehatan untuk Bantuan Hidup Dasar ini, hanya saja daya jangkaunya dirasa kurang maksimal akibat terkendala baik ruang maupun waktu dan anggaran. Sehingga diharapkan melalui telehealth yang berbasis teknologi informasi semakin luas menjangkau masyarakat.
"Harapannya aplikasi ini bisa dikembangkan lebih baik dan bisa dirasakan oleh teman-teman di tempat lain atau kalau toh masih Pontianak ya sebarannya lebih diperluas lagi. Kalau kemarin kan mungkin Pontianak-nya mengambil sampelnya kan mungkin masih belum merata, ini nanti bisa dibuat lebih merata lagi sehingga masyarakat itu bisa menjadi lebih banyak nanti yang bisa merasakan bagaimana mendapatkan pengetahuan terkait dengan henti jantung," katanya.
Dari hipotesis penelitian yang dilakukan Ruhil Iswara, menunjukkan bahwa faktor dukungan organisasi dan stabilitas sistem lebih dominan dibandingkan kualitas layanan maupun kepuasan pengguna, dalam memengaruhi keberhasilan implementasi telehealth.