Usaha Beras Warsoputro Klaten Bertahan Tiga Generasi

KBRN, Sleman: Seorang pengusaha beras asal Klaten, Suparlan atau yang akrab disapa Osama, masih setia menjalankan usaha beras turun-temurun keluarganya hingga kini. Usaha beras bermerek Warsoputro tersebut telah bertahan lintas generasi dan dikenal masyarakat karena menjaga kualitas produk secara konsisten.



Suparlan menuturkan, usaha beras ini awalnya dirintis oleh sang nenek, kemudian diteruskan oleh ibunya bernama Lagiyem, hingga kini dikelola olehnya sebagai generasi ketiga. “Ini usaha dari simbah, diteruskan ibu saya, lalu sekarang saya sendiri yang menjalankan,” ujarnya.

Beras Warsoputro diproduksi dari hasil panen petani di wilayah Klaten, terutama dari daerah Delanggu yang dikenal memiliki kualitas padi unggulan. Prosesnya dimulai dari penjemuran gabah, pengistirahatan selama satu hingga dua hari, hingga penggilingan agar menghasilkan beras yang pulen dan segar. “Kalau prosesnya benar, insya Allah kualitasnya terjaga,” ucapnya.

Saat ini, usaha beras tersebut menyediakan dua jenis utama, yakni beras C4 dan 64, yang dijual dalam berbagai kemasan mulai dari satu kilogram hingga karung 25 kilogram. Harga beras menyesuaikan kondisi pasar, kemasan 25 kilogram berkisar Rp14.800 per kilogram, sedangkan kemasan 1 kilogram sampai 5 kilogram berkisar Rp15.000 per kilogram, tergantung jenis kemasan dan kualitas panen, ujarnya.

Dalam pemasarannya, Suparlan yang juga penghobi tenis meja ini mengandalkan sistem titip jual di kios-kios, penjual sayur keliling, serta pemesanan langsung dari pelanggan. Usaha ini juga melayani antar-jemput dan pemesanan daring selama 24 jam penuh. “Pesan kapan saja bisa, nanti kami antar,” ucapnya.

Keunggulan utama beras Warsoputro, lanjut Suparlan, terletak pada kualitas tanpa bahan pemutih serta adanya jaminan penggantian jika beras dinilai tidak layak. Setiap beras diuji terlebih dahulu di rumah sebelum dijual ke konsumen. “Kalau tidak bagus, kami ganti. Kalau dimasak, airnya dikit aja,” ujarnya.

Meski demikian, Suparlan mengakui tantangan terbesar usaha beras adalah persaingan harga dan pengaruh iklim terhadap masa panen. Namun ia memilih menjalani usaha ini secara mengalir sambil menjaga kepercayaan pelanggan. “Target saya mengalir saja, yang penting kualitas tetap terjaga,” ucapnya. (Aan/katon/par)

Rekomendasi Berita