Jamu Ginggang Bertahan Berkat Tradisi Keluarga Lima Generasi
- by Katon Prayogi
- Editor Mahadevi Pramitha
- 31 Des 2025
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Jamu Ginggang di Yogyakarta tetap bertahan melewati perubahan zaman. Usaha keluarga ini kini diteruskan oleh Rudis, generasi kelima, yang menjaga resep tradisional turun-temurun sejak awal 1900-an. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan usaha ini bukan hanya soal berdagang, tetapi juga menjaga warisan keluarga yang telah dipercaya masyarakat luas. “Saya Rudis, penerus generasi kelima keluarga Jamu Ginggang,” ujarnya.
Menurut Rudis, usaha jamu ini bermula dari leluhur bernama Jaya pada awal abad ke-20 dan mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1930. Sejak saat itu, resep dan tata cara pengolahan jamu dijaga dengan ketat. Tradisi keluarga tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk sikap hati-hati dalam menjaga nama dan kualitas jamu. Filosofi Jawa tentang nama dan tanggung jawab turut mewarnai perjalanan usaha ini.
/jg6l5d9yoprfne3.jpeg)
Metode produksi Jamu Ginggang hingga kini masih tradisional. Bahan diracik manual menggunakan batu dan kayu tanpa mesin, demi menjaga cita rasa. Rudis mengakui pernah mencoba alat modern, namun pelanggan merasakan perbedaan. Karena itu, jamu selalu dibuat segar setiap hari tanpa pengawet. “Jamu harus dibuat fresh, karena bukan minuman instan,” katanya.
Rudis menuturkan, proses pembuatan jamu juga dijaga melalui tata nilai keluarga. Kebersihan menjadi syarat utama, dan peracikan jamu di dapur diutamakan dikerjakan perempuan sesuai tradisi lama. Ia juga sempat menutup usaha saat pandemi Covid-19, namun kini aktivitas kembali normal. Tantangan kenaikan harga bahan baku diakuinya ada, tetapi harga jual tetap dijaga agar terjangkau masyarakat.
Kini, konsumen Jamu Ginggang tidak hanya datang dari kalangan orang tua, tetapi juga anak muda. Rudis menyebut perubahan itu sebagai tanda positif bahwa generasi muda mulai kembali melirik jamu sebagai minuman penunjang kesehatan. Ia juga pernah menerima penghargaan terkait pelestarian jamu tradisional dan merasa berkewajiban menjaga keaslian ramuan tanpa campuran bahan kimia.
Salah satu pelanggan Nikita, mengaku rutin membeli jamu di tempat tersebut. Ia memilih beras kencur dan kunyit asam untuk dikonsumsi mingguan. Menurutnya, Jamu Ginggang memiliki rasa yang cocok dan sudah menjadi langganan sekitar empat bulan terakhir. “Saya pilih disini karena rasanya cocok dan sudah familiar,” ucapnya.
Ke depan, Rudis berharap jamu tradisional tetap dicintai masyarakat tanpa kehilangan kemurniannya. Ia menolak membuka cabang dan memilih menjaga kualitas produksi di satu tempat saja. Harapannya sederhana: jamu tetap menjadi bagian gaya hidup sehat masyarakat, dibuat dengan cara tradisional, dan disajikan apa adanya, sesuai warisan keluarga yang ia emban hingga kini. (Aan/Kat/par)