Sape Alat Musik Dayak Warisan Budaya Kalimantan
- by Raditia Hamzah
- Editor Marga Rahayu
- 19 Jan 2026
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Sape, yang juga dikenal dengan sebutan sampe atau sapek, merupakan alat musik petik tradisional masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai budaya, spiritual, serta menjadi bagian dari identitas masyarakat Dayak, khususnya subetnis Kenyah, Kayan, dan Bahau.
Sape telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan awalnya dimainkan dalam berbagai ritual adat. Dalam kepercayaan masyarakat Dayak, alunan sape digunakan dalam upacara penyembuhan, ritual spiritual, serta sebagai sarana mendekatkan manusia dengan alam dan leluhur. Seiring perkembangan zaman, fungsi sape meluas menjadi alat musik pertunjukan dan hiburan masyarakat.
Dari sisi bentuk, sape menyerupai gitar berleher panjang dengan badan mirip perahu. Alat musik ini dibuat dari sebatang kayu utuh yang dilubangi, seperti kayu adau, meranti, atau ulin. Permukaannya dihiasi ukiran khas Dayak yang memuat simbol alam, tumbuhan, dan hewan, yang masing-masing memiliki makna filosofis.
Pada awalnya, sape hanya memiliki dua senar yang terbuat dari serat alam. Namun, seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan musikal, sape modern kini umumnya menggunakan empat hingga enam senar berbahan nilon atau logam, sehingga memungkinkan variasi nada yang lebih luas.
Sape dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari tangan tanpa alat bantu. Ciri khas permainannya terletak pada melodi yang lembut, ritme yang tenang, serta tangga nada pentatonik yang menghasilkan nuansa meditatif dan menenangkan bagi pendengarnya.
Di era modern, sape tidak lagi terbatas pada upacara adat. Alat musik ini kerap ditampilkan di panggung seni nasional maupun internasional, bahkan dikolaborasikan dengan instrumen modern seperti gitar, piano, dan musik elektronik, tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan dikutip Senin, 19 Januari 2026, menyatakan, sape merupakan bagian dari warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan. Upaya pelestarian terus dilakukan melalui festival budaya, pendidikan seni, serta keterlibatan komunitas adat dan generasi muda agar sape tetap hidup dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia maupun dunia.