Cegah Child Grooming dengan Edukasi Anak Sejak Dini

KBRN, Purwokerto: Belajar dari Memoar Aurelie Moeremans 'Broken Strings', ancaman child grooming terhadap anak dapat dicegah sejak dini dari lingkungan keluarga. Orang tua berperan penting membekali anak dengan pemahaman tentang batasan diri dan keberanian untuk melapor jika merasa tidak aman.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dimuat dalam Jurnal KONSELI: Bimbingan dan Konseling, terbitan UIN Raden Intan Lampung. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa child grooming merupakan proses manipulasi psikologis pelaku untuk membangun kepercayaan anak sebelum melakukan kekerasan seksual.

Penelitian itu menegaskan bahwa edukasi seks yang diberikan secara tepat dan sesuai usia anak menjadi langkah preventif yang efektif. Edukasi ini tidak hanya membahas tubuh, tetapi juga perasaan aman, nyaman, dan kemampuan anak mengenali situasi berbahaya.

Orang tua disarankan membangun komunikasi terbuka di rumah. Anak perlu merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau disalahkan. Lingkungan keluarga yang suportif membantu anak lebih berani menyampaikan pengalaman yang tidak menyenangkan.

Salah satu pesan penting yang bisa disampaikan kepada anak adalah bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Anak perlu memahami bahwa tidak semua sentuhan boleh diterima, meskipun dari orang yang dikenal.

Selain itu, anak harus diajarkan bahwa mereka berhak berkata “tidak” dan tidak wajib menuruti permintaan yang membuat tidak nyaman. Penelitian tersebut menyebutkan, kemampuan anak menolak adalah bagian penting dari perlindungan diri.

Jurnal KONSELI juga menekankan bahwa anak harus tahu tidak ada rahasia buruk dari orang tua, jika ada orang yang meminta merahasiakan sesuatu yang membuat takut atau bingung, anak perlu segera melapor. Dengan edukasi sederhana namun konsisten, risiko child grooming dapat ditekan sejak dari rumah.

Rekomendasi Berita