UMKM Palembang Hidupkan Gaharu Sriwijaya Tembus Pasar Global

KBRN, Palembang: Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam menggerakkan perekonomian Indonesia. Selain menyerap tenaga kerja, UMKM juga menjadi sarana pengembangan potensi lokal dan pelestarian nilai budaya.

Di Palembang, selain pempek dan songket, terdapat UMKM yang berhasil mengangkat kembali komoditas bersejarah, yakni gaharu. Salah satunya adalah Kemitraan Gaharu Sriwijaya, UMKM yang bergerak di bidang budidaya dan pengolahan gaharu milik Habib Budi Alim.

Usaha ini telah merambah pasar ekspor dan dirintis sejak tahun 2007, ketika Habib masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Habib mengaku tertarik menekuni usaha gaharu bukan semata karena nilai ekonominya, tetapi juga karena keterkaitan historisnya dengan Kerajaan Sriwijaya.

"Pada masa lalu, Palembang dikenal sebagai salah satu pusat penghasil dan pengekspor gaharu terbesar di dunia, gaharu sejak zaman Sriwijaya sudah sangat terkenal. Namun, saat ini identitas Palembang lebih dikenal lewat pempek dan songket, padahal gaharu adalah komoditas besar yang pernah berjaya di wilayah ini,” ungkap Habib dalam Dialog UMKM Bicara RRI, Senin (22/12/2025).

Ia menjelaskan, gaharu memiliki nilai jual yang sangat tinggi, harga gaharu dapat mencapai Rp60 juta hingga Rp2 miliar per kilogram, tergantung kualitas dan tingkat kelangkaannya. Untuk menjaga keberlanjutan bahan baku, Kemitraan Gaharu Sriwijaya melakukan budidaya gaharu di wilayah Banyuasin, Sumatera Selatan.

Selain menjual bahan mentah, Habib dan tim juga mengembangkan berbagai produk turunan bernilai tambah, seperti minyak atsiri gaharu, Kemitraan Gaharu Sriwijaya, parfum, dupa, cip gaharu, tasbih, dan aksesoris berbahan gaharu. “Saat ini kami fokus pada pengolahan, bukan hanya jual bahan setengah jadi. Dari situlah nilai ekonomi gaharu bisa meningkat,” jelasnya.

MInyak Gaharu Biru, (Blue Oud Oil) Kemitraan Gaharu Sriwijaya

Produk gaharu Sriwijaya telah diekspor ke sejumlah negara, di antaranya Singapura, Uni Emirat Arab, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, dan beberapa negara Asia lainnya. Menurut Habib, permintaan luar negeri lebih tinggi karena gaharu digunakan sebagai bahan parfum eksklusif, pengharum ruangan, aromaterapi, hingga kebutuhan ritual keagamaan.

Salah satu produk unggulan yang diminati pasar internasional adalah blue oud oil, minyak atsiri gaharu berwarna biru yang mengandung senyawa alami azulen. Produk ini pernah dipesan oleh perfumer asal Amerika Serikat sebagai bahan campuran parfum premium.

Di dalam negeri, peminat gaharu umumnya berasal dari kalangan yang menyukai aroma khas Timur Tengah atau bernuansa spiritual. Produk Kemitraan Gaharu Sriwijaya dapat diperoleh secara daring maupun melalui Galeri Wong Kito di Palembang, yang juga direncanakan menjadi pusat edukasi parfum dan aromaterapi berbasis alam.

Habib menegaskan, usaha ini dijalankan dengan visi jangka panjang untuk memberdayakan petani. Gaharu dikembangkan sebagai tanaman tumpang sari di kebun karet dan sawit guna menambah pendapatan petani.

“Kami ingin membangun ekosistem gaharu agar memberi manfaat ekonomi berkelanjutan,” ujarnya. Kemitraan Gaharu Sriwijaya mulai aktif berproduksi secara komersial sejak 2010, mendapat pembinaan dari berbagai instansi pemerintah dan perbankan," katanya.

Pada 2024, usaha ini resmi berbadan hukum perseroan terbatas dan telah mengantongi perizinan industri serta lingkungan. Melalui inovasi dan pemanfaatan potensi lokal, UMKM ini membuktikan bahwa gaharu Sriwijaya mampu kembali bersaing di pasar global.

Rekomendasi Berita