Tipe B, RSUD Praya Kini Mampu Tangani Penyakit Berat
- by Maya Oktariva
- Editor Hayatun Sofian
- 20 Jan 2026
- Mataram
RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya secara resmi dinyatakan naik kelas dari rumah sakit tipe C menjadi rumah sakit tipe B. Kenaikan status ini menandai peningkatan signifikan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat peran RSUD Praya sebagai rumah sakit rujukan bagi masyarakat Lombok Tengah dan sekitarnya.
Direktur RSUD Praya, dr. Mamang Bagiansah, menjelaskan bahwa dengan status tipe B, RSUD Praya kini menghadirkan layanan kesehatan yang lebih unggul, spesifik, dan berbasis spesialisasi mendalam. Jika pada rumah sakit tipe C atau D layanan masih didominasi oleh dokter spesialis umum, maka pada tipe B telah tersedia dokter spesialis konsultan di berbagai bidang.
“Contohnya di penyakit dalam, sekarang sudah ada konsultan khusus, seperti konsultan kanker. Begitu juga dengan spesialis bedah yang kini lebih detail dan terfokus,” kata dr. Mamang, Selasa 20 Januari 2026.
Peningkatan layanan ini berlaku di seluruh poli, mulai dari poli jantung, KIA, hingga berbagai poli penyakit lainnya. Dengan dukungan sumber daya manusia yang semakin lengkap dan kompeten, RSUD Praya kini mampu menangani kasus-kasus penyakit berat yang sebelumnya harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah.
“Kalau dulu pasien harus dirujuk karena keterbatasan layanan, sekarang insyaallah bisa ditangani langsung di RSUD Praya, selama golden time terpenuhi,” jelasnya.
Tak hanya dari sisi dokter, peningkatan kualitas juga dilakukan terhadap tenaga keperawatan. RSUD Praya kini memiliki perawat dengan spesialisasi khusus, seperti perawat kanker, perawat jantung, serta perawat di bidang penyakit tertentu lainnya.
“Perawat kita sudah lengkap dan unggul. Mereka tidak lagi bersifat umum, tetapi dikhususkan sesuai bidang penyakit masing-masing,” ungkap dr. Mamang.
Selain kompetensi teknis, RSUD Praya juga menekankan peningkatan kualitas pelayanan non-medis dengan membangun budaya senyum, sapa, dan pelayanan ramah kepada pasien.
“Ini memang investasi besar karena kita melatih SDM secara menyeluruh. Namun tujuan kita jelas, agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih maksimal dan humanis,” ucapnya.
dr. Mamang mengakui, kenaikan status RSUD Praya menjadi tipe B melalui proses panjang dan penilaian yang ketat. Proses tersebut diawali dengan asesmen oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah dan Dinas Kesehatan Provinsi NTB hingga akhirnya dinyatakan layak direkomendasikan.
“Ada beberapa aspek penting yang kami kejar, salah satunya AMDAL sebagai syarat utama. Selain itu, kami juga meningkatkan rasio antara jumlah tempat tidur dan ruang intensif,” jelasnya.
Setelah dinyatakan layak secara administrasi dan teknis, RSUD Praya kembali berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menyesuaikan status pada sistem nasional Rumah Sakit Online (SIRS Online).
“Alhamdulillah, status RSUD Praya di sistem Kementerian Kesehatan kini sudah berubah menjadi rumah sakit tipe B,” katanya.
Langkah berikutnya adalah pengakuan dari sisi pembiayaan. Manajemen RSUD Praya kemudian mengajukan penilaian kepada BPJS Kesehatan.
“Hasilnya, per 1 Januari 2026, kami sudah menandatangani PKS dengan BPJS Kesehatan sebagai rumah sakit kelas B. Ini penting agar pelayanan kepada peserta JKN dapat berjalan optimal,” ungkap dr. Mamang.
Saat ini, pekerjaan rumah yang tersisa adalah penyesuaian regulasi daerah, yakni Perda dan SOTK RSUD Praya kelas B, yang berdampak pada perubahan struktur eselonisasi.
“Alhamdulillah, prosesnya sudah berjalan bersama legislatif. Sekarang bolanya ada di DPRD, tinggal menunggu kapan diketok,” jelasnya.
Selain resmi menyandang status tipe B, RSUD Praya juga terus berprogres sebagai rumah sakit pendidikan, baik bagi dokter maupun perawat. RSUD Praya turut berperan sebagai rumah sakit jejaring bagi sejumlah perguruan tinggi, seperti Fakultas Kedokteran Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Islam Al-Azhar (Unizar).
“Kami membawa dua misi besar, yaitu mendukung Asta Cita Presiden dan visi-misi pembangunan Lombok Tengah. Alhamdulillah, semuanya bisa kita kawal bersama,” ujarnya.
Dr. Mamang menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kerja keras dan dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat Lombok Tengah.