SMPN 3 Mataram Perkuat Pendidikan Karakter Siswa
- by Kholil Bisri
- Editor Hayatun Sofian
- 11 Jan 2026
- Mataram
KBRN, Mataram: Perubahan perilaku remaja menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan saat ini. Pihak Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Mataram menyadari bahwa mendidik siswa tidak cukup hanya menekankan capaian akademik.
Sekolah melihat pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama pembentukan peserta didik. Nilai-nilai tersebut harus tertanam sejak dini agar siswa siap menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
Kepala SMPN 3 Mataram, Suherman, M.Pd, menegaskan pendekatan pendidikan harus menyesuaikan perkembangan zaman. Pola pengajaran lama tidak bisa diterapkan sepenuhnya pada generasi saat ini.
“Kita tidak bisa mendidik anak sekarang dengan cara zaman dulu,” ungkapnya, Minggu (11/1/2025).
Menurut Suherman, remaja masa kini hidup di lingkungan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Teknologi, media sosial, dan gawai menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian siswa.
Kondisi tersebut menuntut pendidik untuk memahami dunia peserta didik. Sekolah harus hadir sebagai ruang aman yang membimbing, bukan sekadar mengatur.
“Guru harus masuk ke dunia anak-anak, bukan memaksa mereka masuk ke dunia guru,” katanya.
SMPN 3 Mataram kemudian merumuskan nilai karakter sebagai identitas sekolah. Nilai tersebut meliputi akhlak mulia, sikap atraktif, keterampilan, antusiasme, dan kreativitas.
Nilai-nilai ini tidak hanya disampaikan secara teoritis. Sekolah berupaya menerapkannya dalam seluruh aktivitas pembelajaran dan kegiatan sekolah.
“Kami ingin pembelajaran itu menghasilkan perubahan sikap, bukan hanya nilai rapor,” ujar Suherman.
Salah satu strategi yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek. Siswa diajak menghasilkan karya nyata sebagai bagian dari proses belajar.
Produk seperti batik alami dan kerajinan daur ulang menjadi media pembelajaran karakter. Melalui proses tersebut, siswa belajar disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghasilkan karya yang bisa mereka banggakan,” tuturnya.
Hasil karya siswa kemudian dipamerkan melalui bazar sekolah. Orang tua dilibatkan agar melihat langsung perkembangan dan potensi anak-anak mereka.
Langkah ini juga membangun kepercayaan diri siswa. Sekolah ingin anak merasa dihargai atas usaha dan kreativitasnya.
“Kami ingin anak-anak tumbuh percaya diri dan bangga dengan dirinya,” kata Suherman.
Selain itu, sekolah menanamkan kebanggaan terhadap latar belakang keluarga siswa. Profesi orang tua, khususnya nelayan, ditempatkan sebagai identitas yang bermartabat.
Simbol perahu tradisional di gerbang sekolah menjadi pengingat nilai tersebut. Pesan budaya ini sengaja dihadirkan agar siswa tidak rendah diri.
“Itu penegasan bahwa menjadi nelayan bukan pekerjaan hina, tetapi bagian dari jati diri kami,” ujarnya.
Melalui pendidikan karakter yang kontekstual, SMPN 3 Mataram berupaya membentuk remaja yang berakhlak, terampil, dan adaptif. Sekolah tidak hanya menyiapkan siswa untuk lulus, tetapi untuk hidup di masa depan.