Libur Tahun Baru, Berkah Bagi Peternak Bebek

KBRN, Dompu: Malam pergantian tahun di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, kerap diisi warga dengan kegiatan sederhana namun sarat kebersamaan. Alih-alih merayakan secara berlebihan, sebagian besar masyarakat memilih berkumpul dan makan bersama keluarga maupun teman sebaya.

Kegiatan tersebut biasanya dilakukan di rumah atau di kebun-kebun milik warga. Menu yang disajikan pun beragam, mulai dari ayam bakar hingga bebek bakar. Tak jarang, tradisi ini juga digelar di sejumlah obyek wisata saat libur Tahun Baru.

Warga Dompu menyebut tradisi makan bersama ini dengan istilah “Ngaha Ndiha”, yang telah menjadi bagian dari budaya kebersamaan masyarakat setempat setiap momen pergantian tahun.

Selain mempererat silaturahmi, Ngaha Ndiha juga membawa berkah ekonomi bagi para pedagang ayam dan bebek. Salah satunya dirasakan Ahmad, warga Kelurahan Simpasai, Kabupaten Dompu. Ahmad yang memiliki usaha peternakan bebek, mengaku permintaan bebek meningkat signifikan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Jauh sebelum libur Nataru, Ahmad telah mempersiapkan stok bebeknya. Selain membeli bebek siap jual dari warga sekitar, sebagian lainnya merupakan hasil peternakan sendiri yang telah disiapkan sejak tiga bulan sebelumnya agar siap dipasarkan saat libur akhir tahun.

Bebek yang biasa dibakar atau dimasak dalam tradisi Ngaha Ndiha ini oleh warga setempat dikenal dengan sebutan Sarati Karamila.

Untuk satu ekor bebek, Ahmad mematok harga antara Rp60 ribu hingga Rp70 ribu, tergantung ukuran.

“Tahun ini, sejak libur Natal sampai sekarang sudah terjual sekitar 120 ekor,” katanya, Rabu (31/12/2025).

Bahkan, untuk memenuhi tingginya permintaan, Ahmad mengaku harus mengambil tambahan stok dari peternak lain dengan harga di bawah pasaran agar tetap memperoleh keuntungan.

Tradisi Ngaha Ndiha pun tak hanya menjadi simbol kebersamaan warga Dompu dalam menyambut tahun baru, tetapi juga turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat lokal.

Rekomendasi Berita