Kecanduan Nikotin Picu Ketergantungan, Ancaman Serius Kesehatan

RRI.CO.ID, Manado - Kecanduan nikotin masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia dan dunia. Nikotin, zat adiktif utama dalam tembakau, tidak hanya ditemukan pada rokok konvensional, tetapi juga pada rokok elektrik. Zat ini tergolong stimulan yang mampu masuk ke otak hanya dalam hitungan detik setelah dihirup, sehingga menimbulkan efek ketergantungan yang kuat dan sulit dihentikan.

Mengutip informasi dari laman resmi polri.go.id nikotin bekerja dengan merangsang otak untuk melepaskan hormon dopamin, yaitu senyawa kimia yang bertanggung jawab terhadap rasa senang, nyaman, relaks, semangat, serta motivasi. Efek inilah yang membuat perokok merasa “tenang” setelah merokok. Namun, sensasi tersebut bersifat sementara dan justru menjadi awal dari kecanduan.

Nikotin dapat bertahan di dalam tubuh selama sekitar 6 hingga 8 jam setelah seseorang merokok. Selama berada di dalam tubuh, zat ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah, sehingga aliran darah, oksigen, dan nutrisi ke berbagai organ menjadi terhambat. Akibatnya, fungsi organ-organ vital dapat terganggu.

Jika konsumsi nikotin dilakukan secara terus-menerus, risiko gangguan kesehatan pun meningkat. Pada perokok aktif, nikotin dapat memicu sesak napas, kebingungan, rasa seperti akan pingsan, kejang, hingga gagal napas. Dalam jangka panjang, kecanduan nikotin juga berisiko menyebabkan penyakit jantung dan dapat memicu serangan jantung yang berujung pada kematian.

Sementara itu, pada orang yang baru pertama kali merokok, nikotin sering menimbulkan reaksi seperti batuk, pusing, sakit kepala, mual, hingga muntah. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh sebenarnya memberikan sinyal penolakan terhadap zat berbahaya tersebut.

Secara medis, nikotin menyebabkan kecanduan karena kemampuannya berikatan dengan reseptor asetilkolin nikotinik pada saraf di otak. Aktivasi reseptor ini memicu peningkatan kadar dopamin yang signifikan. Dopamin kemudian mengaktifkan

reward pathway di otak, yaitu sistem yang mengatur perasaan senang dan perilaku.

Aktivasi sistem ini memperkuat dorongan untuk kembali menggunakan nikotin, sehingga ketergantungan fisik dapat terjadi dengan cepat dan intens. Dopamin sendiri merupakan senyawa alami tubuh yang berperan dalam rasa senang, gembira, percaya diri, dan motivasi. Karena itulah, perokok kerap merasa “membutuhkan” rokok untuk mempertahankan perasaan tersebut.

Ironisnya, ketika seorang perokok mencoba berhenti, justru muncul berbagai gejala putus nikotin. Gejala tersebut antara lain rasa cemas, sulit tidur, susah berkonsentrasi, sakit kepala, batuk, mudah marah, hingga gelisah. Kondisi inilah yang sering membuat perokok kembali merokok agar terhindar dari rasa tidak nyaman tersebut.

Kecanduan nikotin sendiri didefinisikan sebagai kondisi ketika suatu zat mampu mengontrol perilaku seseorang. Ciri utamanya adalah penggunaan zat psikoaktif yang memengaruhi emosi, perilaku, persepsi, dan kesadaran penggunanya. Dalam hal ini, nikotin menjadi senyawa paling adiktif di antara lebih dari 3.000 senyawa yang terkandung dalam tembakau.

Merokok tercatat sebagai salah satu penyebab kematian utama yang sebenarnya dapat dicegah, terutama di negara berkembang. Hampir 5 juta kematian dini di dunia disebabkan oleh kebiasaan merokok. Bahkan, sebuah penelitian memprediksi bahwa jika tren ini terus berlanjut, pada tahun 2030 rokok dapat membunuh hingga seperenam populasi dunia.

Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa upaya penghentian kebiasaan merokok masih menghadapi tantangan besar, terutama akibat sifat adiktif nikotin yang membuat banyak perokok sulit berhenti meski telah menyadari dampak buruknya. Mengatasi kecanduan nikotin membutuhkan komitmen yang kuat, dukungan sosial, manajemen stres yang baik, serta perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Selain itu, terapi medis juga dapat menjadi pilihan yang efektif.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengurangi jumlah rokok secara bertahap


    Perokok dapat mulai dengan menunda waktu merokok, misalnya dua jam lebih lama dari biasanya setiap hari. Alternatif lain adalah mengurangi jumlah batang rokok yang dihisap secara perlahan, terutama bagi perokok ringan hingga sedang.
  2. Terapi perilaku


    Konseling dengan psikolog atau konselor dapat membantu mengidentifikasi pemicu kebiasaan merokok. Terapi perilaku bertujuan mengubah pola pikir dan kebiasaan, sekaligus meringankan gejala putus nikotin.
  3. Terapi Pengganti Nikotin (Nicotine Replacement Therapy/NRT)


    Terapi ini menggunakan nikotin dosis rendah dari produk selain rokok, seperti permen karet, tablet hisap, atau semprot hidung. Tujuannya adalah mengurangi keinginan merokok secara bertahap hingga akhirnya berhenti.
  4. Penggunaan obat-obatan


    Obat resep seperti bupropion dan varenicline dapat membantu meniru efek nikotin di otak, sehingga mengurangi gejala putus nikotin. Penggunaan obat ini harus di bawah pengawasan dokter dan sering kali dikombinasikan dengan terapi perilaku untuk hasil yang optimal.

Pihak berwenang juga menganjurkan masyarakat untuk memanfaatkan layanan UBM (Upaya Berhenti Merokok) serta berkonsultasi dengan tenaga medis guna mendapatkan penanganan yang tepat dan aman. Penanganan kecanduan nikotin dapat dilakukan dengan atau tanpa obat. Namun, faktor terpenting dalam keberhasilan berhenti merokok adalah keinginan, motivasi, dan komitmen yang kuat dari individu itu sendiri. Konsistensi dalam menjalani terapi serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi kunci utama untuk terbebas dari jerat kecanduan nikotin dan mencapai kualitas hidup yang lebih sehat.

(Tetty B Pangemanan)

Rekomendasi Berita