Mahasiswa Filsafat UNWIRA Raih Orator Terbaik Debat Lomba

KBRN,Kupang: Mahasiswa semester satu Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Alexander Blasius Inosensius Jolong, membuktikan bahwa ketajaman berpikir dan kemahiran berbahasa mampu melampaui batas negara. Keberhasilannya meraih gelar

1st Best Speaker dalam ajang International English Debate Competition di Batu Gade, Timor Leste, menjadi bukti nyata kualitas akademis mahasiswa perbatasan Indonesia.

Disegmen Tamu Malam dalam wawancara bersama RRI Pro2 Kupang pada Kamis (8/1/2026), kompetisi berskala internasional ini merupakan bagian dari kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PPKM) kolaborasi antara UNWIRA Indonesia dan ISFIT Timor Leste yang berlangsung pada November 2025. Menariknya, meski baru mengenyam pendidikan filsafat selama enam bulan, Alex mampu menaklukkan panggung debat melawan mahasiswa senior yang sudah memiliki gelar sarjana filsafat.

"Kemenangan ini ibarat satu balok kayu tambahan untuk jembatan yang sedang saya bangun menuju diri yang saya inginkan; kini di atasnya terukir identitas sebagai seorang

debater," ungkap Alex saat menggambarkan makna prestasinya dalam wawancara di RRI Kupang.

Ia menjelaskan bahwa kompetisi debat ini bukan sekadar adu argumen, melainkan ruang pembelajaran lintas budaya, bahasa, dan disiplin ilmu. Menurutnya, mahasiswa dituntut menguasai logika, struktur berpikir, serta kemampuan membahasakan gagasan secara jernih dan bertanggung jawab.

Strategi utama kemenangan timnya bukan hanya terletak pada penguasaan materi, melainkan pada ketelitian mengikuti aspek teknis dan format penilaian juri secara mendalam. Alex menekankan bahwa penguasaan logika dan etika berbicara yang ia pelajari di bangku kuliah menjadi "senjata" terkuat untuk meyakinkan para juri di arena kompetisi.

Sebagai seorang calon imam yang mencintai sastra, Alex memaknai keberhasilannya bukan sebagai bentuk kesombongan, melainkan sebagai kesempatan untuk menjadi perwakilan suara kolektif. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk aktif tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di arena kompetisi nyata.

Alexander menutup dengan pesan bahwa dunia akademik harus terus melahirkan suara-suara muda yang kritis, rendah hati, dan berani menjadi

voice of the voiceless.

"Bagi saya, menjadi Best Speaker berarti menjadi 'voice of the voiceless', karena saya bertugas membahasakan argumen tim yang kami sepakati bersama dengan cara yang terbaik," pungkasnya menutup obrolan inspiratif malam itu. (AK)

Rekomendasi Berita