MBG Berdampak Positif Penurunan Gizi Kurang di Gorontalo
- by Pemprov Gorontalo : Rosyid Ashar
- Editor Budi Akantu
- 20 Jan 2026
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Dari 2.148 siswa yang telah diukur di Kota Gorontalo, terjadi penurunan signifikan kasus gizi kurang, kategori sangat kurus menurun dari 6,6 persen menjadi 2,5 persen, sementara kategori kurus menurun dari 8,6 persen menjadi 7,7 persen.
Pada saat yang sama proporsi siswa dengan status gizi normal meningkat dari 58,4 persen menjadi 63,5 persen, yang menunjukkan dampak positif Program MBG terhadap perbaikan status gizi anak sekolah.
Pemantauan awal di empat kabupaten juga menunjukkan variasi permasalahan gizi. Persentase sangat kurus tertinggi tercatat di Kabupaten Gorontalo sebesar 3,5 persen, sementara persentase kurus tertinggi berada di Kabupaten Pohuwato sebesar 9,1 persen.
hal ini terungkap pada rapat evaluasi status gizi Balita dan anak sekolah program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun 2025, Selasa 20 Januari 2026.
“Program MBG terbukti menurunkan gizi kurang dan meningkatkan proporsi gizi normal. Namun, meningkatnya gizi lebih dan obesitas di beberapa daerah harus segera diantisipasi melalui edukasi gizi seimbang, peningkatan aktivitas fisik anak, serta pemantauan yang berkelanjutan,” kata Anang Otoluwa Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) saat memimpin rapat.
Dalam pertemuan ini dibahas kategori gizi lebih, persentase gemuk tertinggi ditemukan di Kabupaten Gorontalo sebesar 12,3 persen, sedangkan obesitas paling menonjol di Kabupaten Gorontalo Utara sebesar 28,2 persen. Meski demikian, di seluruh kabupaten, status gizi normal masih menjadi kategori dominan.
Menanggapi temuan tersebut, Anang menekankan perlunya keseimbangan intervensi gizi.
Data yang terungkap ini berdasarkan laporan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), status gizi balita dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu stunting, wasting, underweight dan overweight, yang masih ditemukan di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Gorontalo dengan variasi jumlah dan proporsi kasus.
“Data e-PPGBM menjadi fondasi utama dalam perencanaan dan evaluasi program gizi. Dengan data yang valid, intervensi melalui Program MBG dapat disusun lebih tepat sasaran sesuai permasalahan di masing-masing wilayah,” ujar Anang.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Seksi Gizi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) beserta staf terkait. Rapat evaluasi ini membahas hasil pemantauan status gizi balita dan anak sekolah yang bersumber dari laporan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), dengan tarikan data per 23 Januari 2026.
Dalam pertemuan ini selain balita juga mengevaluasi status gizi anak sekolah penerima Program MBG. Dari total 557 sekolah penerima MBG di Provinsi Gorontalo, pemantauan status gizi telah dilakukan pada 23 sekolah atau sekitar 4,1 persen. Penilaian status gizi anak sekolah menggunakan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) sesuai standar WHO 2007.
Melalui rapat evaluasi ini, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo berkomitmen untuk memperkuat intervensi gizi spesifik, mengintegrasikan Program MBG dengan layanan kesehatan ibu dan anak, serta meningkatkan sistem monitoring, evaluasi, dan pelaporan berbasis e-PPGBM guna mewujudkan perbaikan status gizi balita dan anak sekolah secara berkelanjutan di Provinsi Gorontalo. Anang menegaskan, bahwa data yang bersumber dari laporan e-PPGBM menjadi instrumen penting dalam pengambilan keputusan. (mcgorontaloprov/md/ilb/nancy)