IHSG Menguat, Tak Terpengaruh Pelemahan Rupiah

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau bergerak di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di level 9.156, naik 0,24 persen dibandingkan posisi sebelumnya.

IHSG masih bergerak naik hingga menjelang jeda siang. "IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan hari ini sepanjang kuat di atas 9.100," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga:

IHSG Melesat ke 9.133 di Tengah Pelemahan Rupiah

Baca Juga:

Rupiah Mendekati Rp17.000, Analis Nilai Efek Trump

Fanny memperkirakan, IHSG akan bergerak di rentang 9.040-9.100 untuk level support. Sedangkan level resistansi akan bergerak di rentang 9.170-9.200.

Pada Senin, 19 Januari 2026 kemarin, IHSG ditutup naik 0,64 persen disertai net sell (jual bersih) asing sebesar Rp543 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah BBCA, GOTO, TLKM, ARCI dan INDY.

IHSG menguat ditengah melemahnya bursa saham di kawasan Asia. Bursa saham utama di Wall Street, Amerika Serikat juga ditutup melemah jelang libur Hari Martin Luther King Jr.

Di Asia, pelaku pasar mencermati krisis AS dan Eropa terkait Greenland, yang dikhawatirkan memicu perang dagang baru. Di sisi lain, pasar menunggu rilis data ekonomi Tiongkok, diantaranya data PDB triwulan IV dan data penjualan ritel.

Sementara itu, Tim Mirae Asset Sekuritas mencermati diskoneksi antara pergerakan IHSG dan nilai tukar rupiah. Sejak awal tahun IHSG menguat sekitar 5,6 persen, sedangkan rupiah terdepresiasi sekitar 1,5 perse .

"Pola serupa juga terlihat di Korea Selatan dan Jepang. Pelemahan nilai tukar terjadi pada saat indeks saham mencatat tren kenaikan yang cukup signifikan," kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto.

Menurutnya, investor saat ini menuntut 'risk premium' yang lebih tinggi. Tuntutan itu sebagai kompensasi atas meningkatnya risiko spesifik di masing masing negara.

Risiko tersebut tercermin antara lain dari pelemahan nilai tukar, meski sumber pelemahannya berbeda. Di Indonesia, fokus pasar tertuju pada ruang fiskal dan kredibilitas kebijakan makro.

"Sedangkan di Jepang pada keberlanjutan stimulus fiskal moneter di tengah beban utang tinggi dan suku bunga riil yang negatif. Di Korea Selatan, tekanan utama datang dari dinamika arus modal keluar dan eksposur eksternal yang besar," ucap Rully menutup analisisnya.















.


Rekomendasi Berita