IHSG Melesat ke 9.133 di Tengah Pelemahan Rupiah

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus naik ke level 9.133, 87 dalam penutupan perdagangan hari ini, Senin, 19 Januari 2026. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 0,64 persen atau 58 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

“IHSG menguat di tengah meningkatnya ekspektasi suku bunga yang tidak berubah untuk melindungi nilai tukar rupiah,” kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Senin, 19 Januari 2026. Rupiah hari ini ditutup merosot ke level Rp16.955 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, sebanyak 377 saham harganya naik, 318 saham harganya turun dan 110 saham stagnan. “Saham sektor barang sekunder naik paling kuat 2,45 persen, saham sektor transportasi dan logistik turun paling dalam sebesar minus 1,23 persen,” ucap Tim Pilarmas.


Baca Juga:

IHSG Menguat di Pembukaan, Cermati Arah Pergerakannya
Menkeu Purbaya Dukung Pejabat BI-Kemenkeu Tukar Tempat


Indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga bergerak menguat. Saham–saham yang mendominasi penguatan diantaranya ASII, BRPT, AKRA, JPFA, DSSA.

Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 85,35 miliar lembar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 3,93 juta kali transaksi. Total nilai perdagangan tercatat sebesar Rp35,91 triliun dan kapitalisasi pasar menjadi Rp16.670 triliun.

Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia hari ini ditutup beragam. Menurut Tim Pilarmas, pelaku pasar di Asia sedang bingung dengan langkah Presiden Trump ingin menguasai Greenland.

“Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap delapan negara Eropa. Yakni negara-negara Eropa yang menentang ambisi AS menguasai Greenland,”ujar Tim Pilarmas.

Di Tiongkok, rilis data pertumbuhan ekonominya di triwulan IV 2025 mengalami penurunan menjadi 4,5 persen. Pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok tercatat sebesar 4,8 persen.

“Namun GDP Tiongkok di tahun 2025 berhasil mencapai target pertumbuhan yaitu 5 persen secara tahunan,” ucap Tim Pilarmas. Pertumbuhan didukung oleh ekspor Tiongkok yang kuat di triwulan IV.

Perusahaan-perusahaan di Tiongkok melakukan diversifikasi pengiriman ke Eropa dan Amerika Latin untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah. Ekspor barang Tiongkok tercatat naik 6,1 persen, sedangkan impor naik 0,5 persen.


Rekomendasi Berita