Tensi Geopolitik Tetap Tinggi, Rupiah Berbalik Melemah

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026). Menurut Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,18 persen atau 30 poin menjadi Rp16.895 per dolar AS.

Sentimen pasar keuangan masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, terutama situasi di Iran. "Kekhawatiran bahwa Washington akan melakukan aksi militer ke Iran telah mereda," kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.

Sebelumnya AS dan Iran saling melontarkan retorika perang terkait ambisi Washington menggulingkan Permimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, AS juga mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela menyangkut minyak, mineral dan keamanan.

Baca juga:

Penguatan Nilai Tukar Rupiah Masih Hadapi Risiko Eksternal

Baca juga:

IHSG Menguat 0,52 Persen di Awal Perdagangan

Melalui wawancara dengan Reuters, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak berencana memecat Ketua The Fed, Jerome Powell. Meskipun penyelidikan terhadap pimpinan bank sentral AS itu sedang berlangsung.

Pernyataan Trump tersebut meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS. Pelaku pasar juga tengah mencermati sejumlah data ekonomi AS seperti indeks harga produsen (PPI) per Oktober 2025.

Pada bulan itu, indeks harga produsen jauh melebihi target 2 persen yang ditetapkan The Fed. Namun, para pedagang tetap yakin bank sentral AS itu akan memangkas suku bunga pada 2026.

Selanjutnya tingkat penjualan ritel yang melebihi perkiraan mengindikasikan rumah tangga AS sedang meningkatkan pengeluaran. Sebagian besar digunakan untuk membeli kendaraan bermotor dan lainnya.

Menurut Ibrahim, fokus pasar saat ini adalah klaim pengangguran awal untuk minggu berakhir pada 10 Januari 2026. "Perkiraannya di atas 215 ribu warga AS mengajukan tunjangan pengangguran, naik dibandingkan minggu sebelumnya sebesar 208 ribu orang," ujarnya.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati stimulus ekonomi yang seharusnya juga diberikan pemerintah kepada kelompok masyarakat kelas menengah. "Karena mereka tengah mengalami tekanan ekonomi yang mengarah kepada kelompok rentan," ucapnya.

Pemerintah sebelumnya memberikan insentif pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pekerja di lima setor dan berpenghasilan di bawah Rp10 juta. Di antaranya industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata.

Menurut Ibrahim, perlu lebih banyak stimulus untuk kelas menengah agar daya beli mereka terjaga. "Hal ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi sesuai target pemerintah," ujarnya.

Rekomendasi Berita