Penguatan Nilai Tukar Rupiah Masih Hadapi Risiko Eksternal

KBRN, Jakarta: Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (15/1/2026). Menurut Bloomberg, rupiah dibuka naik tipis 0,03 persen menjadi Rp16.860 per dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Rabu (14/1/2026) kemarin, rupiah juga menguat 0,07 persen ke posisi Rp16.865 per dolar AS. Meskipun demikian, rupiah berisiko melemah lagi karena pengaruh faktor eksternal terutama rilis data ekonomi AS.

"Rupiah berpotensi melemah menyusul rilis data ekonomi AS," kata analis pasar uang, Lukman Leong, Kamis (15/1/2026). Di antaranya tingkat penjualan ritel, penjualan rumah, serta indeks harga produsen yang lebih kuat dari perkiraan.

Baca juga:

Pernyataan BI Soal Intervensi Lanjutkan Penguatan Rupiah

Baca juga:

IHSG Menguat 0,52 Persen di Awal Perdagangan

Menurut Lukman, rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800-Rp16.950 per dolar AS. Sedangkan dolar AS saat ini berada di level 99,12 yang berarti melemah dibandingkan level sebelumnya.

Posisi dolar AS dipengaruhi pernyataan hawkish beberapa pejabat The Fed, Rabu (14/1/2026) waktu setempat. Hal ini merupakan kecenderungan moneter yang ketat dengan menaikkan suku bunga.

Melihat penguatan rupiah yang masih lamban, pelaku pasar berharap Bank Indonesia (BI) kembali mengintervensi di pasar uang. Sehingga hal ini dapat mendorong rupiah untuk lebih menguat lagi terhadap dolar AS.

Menurut data BI, nilai tukar rupiah sejak awal Januari hingga saat ini sudah melemah sebesar 1 persen. Menurut Tim Analis Mirae Asset Sekuritas, bank sentral global saat ini bersikap cenderung berhati-hati.

"BI akan mengintensifkan intervensi valas aktif harian untuk menjaga nilai tukar tetap di bawah Rp17.000," kata Tim Mirae Asset. Menurut mereka, stabilisasi rupiah juga bertujuan untuk melindungi stabilitas makro dan kepercayaan investor.

Tim Mirae Asset memperkirakan BI akan menahan suku bunga kebijakan pada posisi 4,75 persen per Januari 2026. "Hal itu sejalan dengan pandangan kami bahwa The Fed juga akan tetap mempertahankan suku bunga bulan ini," katanya.

Rekomendasi Berita