BI Pastikan Stabilitas Rupiah Terjaga dengan Langkah Intervensi

KBRN, Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan konsisten menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi. BI menyampaikan pernyataan tersebut melihat nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS selama hampir dua pekan ini.

"Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini. Termasuk rupiah, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (14/1/2026).

Menurutnya, tekanan di pasar yang global terjadi karena kombinasi berbagai faktor. Dan ini terjadi di global.

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju. Tekanan semakin kuat karena ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan," ucap Erwin.

Baca Juga:

Awal Pekan, Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS
IHSG Menguat 0,52 Persen di Awal Perdagangan

Sementara itu di dalam negeri, tambahnya, kebutuhan valuta asing sedang meningkat pada awal tahun. Kondisi itu membuat rupiah terus tertekan terhadap dolar AS.

"Rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date. Namun pelemahan rupiah itu masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global," ujar Erwin.

Mata uang di Asia seperti won Korea, juga melemah sebesar 2,46 persen, dan peso Filipina turun sebesar 1,04 persen. BI menegaskan akan konsisten dengan kebijakan stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah.

"Stabilisasi dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Sedangkan intervensi di pasar domestik dilakukan melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," kata Erwin menjelaskan.

Di sisi lain, tambah Erwin, aliran masuk modal asing yang berlanjut akan menjadi penopang stabilitas niai tukar rupiah. Berdasarkan catatan BI, aliran modal asing utamanya masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham.

Secara neto, aliran masuk modal asing melalui instrumen tersebut mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026. Selain itu premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun berada pada level rendah, sekitar 72 basis poin.

"CDS yang rendah menunjukkan persepsi investor global terhadap Indonesia tetap positif," ucap Erwin. BI juga menyebut, ketahanan eksternal tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025.

Posisi cadangan devisa pada Desember 2025 tercatat sebesar USD156,5 miliar. Jumlah itu setara dengan 6,4 bulan impor, dan menurut BI memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

"BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Untuk itu, BI akan mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market," ujar Erwin menegaskan.

Langkah itu dilakukan guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas. Sehingga stabilitas nilai tukar rupiah terjaga, sekaligus dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan mencapai sasaran inflasi.


Rekomendasi Berita