Mental Miskin vs Mental Kaya

KBRN, Bukittinggi: Banyak orang mengira koruptor mencuri karena miskin. Faktanya, sebagian besar pelaku korupsi justru sudah memiliki jabatan, penghasilan, dan fasilitas berlimpah. Ini menunjukkan bahwa masalah utama korupsi bukan pada ekonomi, melainkan

pola pikir.

Mental kaya adalah kemampuan merasa cukup dan bertanggung jawab. Orang dengan mental ini melihat kekayaan sebagai amanah, bukan alat untuk memuaskan keserakahan. Mereka sadar bahwa kepercayaan publik lebih berharga daripada uang.

Sebaliknya,

mental miskin tercermin dari rasa tidak pernah puas. Inilah mental yang sering melekat pada koruptor. Meski sudah bergaji besar, fasilitas lengkap, dan dihormati, mereka tetap mencari tambahan dengan cara haram.

Koruptor memiliki pola pikir instan. Mereka ingin hasil besar tanpa risiko terlihat. Inilah ciri mental miskin: mengutamakan keuntungan sesaat tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi diri sendiri dan masyarakat.

Mental miskin juga ditandai dengan

pembenaran moral. Koruptor sering berpikir, “semua orang juga melakukan”, atau “aku hanya ambil sedikit”. Pembenaran ini membuat hati nurani mati perlahan, hingga korupsi terasa normal.

Orang dengan mental kaya justru berpikir jangka panjang. Mereka sadar bahwa kejujuran dan integritas adalah aset utama. Kepercayaan yang rusak tidak bisa dibeli kembali, berapa pun jumlah uangnya.

Koruptor juga menunjukkan ketakutan kehilangan status. Mereka terjebak pada gaya hidup mewah yang tidak sehat. Demi mempertahankan citra, mereka rela mengorbankan hukum, etika, dan masa depan bangsa.

Ironisnya, mental miskin membuat koruptor hidup dalam kecemasan. Takut ketahuan, takut kehilangan kekuasaan, dan takut jatuh miskin setelah terbiasa berlimpah. Kekayaan yang dimiliki tidak pernah membawa ketenangan.

Mental kaya mengajarkan bahwa kekayaan sejati adalah rasa cukup dan damai. Tanpa itu, sebesar apa pun harta yang dimiliki, seseorang tetap miskin secara batin.

Kesimpulannya, korupsi lahir dari

mental miskin dalam balutan kekuasaan. Pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan hukuman, tetapi juga harus menyasar pembentukan mental kaya: jujur, bertanggung jawab, dan merasa cukup.

Jika mental tidak dibenahi, koruptor akan selalu lahir kembali, meski sistem berganti. Karena akar korupsi bukan kemiskinan harta, melainkan kemiskinan karakter. (AMY/YPA)

Rekomendasi Berita