RRI.CO.ID, Bengkulu - Banyak orang merokok karena merasa itu bisa meredakan stres, bikin tenang, atau sekadar kebiasaan di lingkungan. Tapi dari momen pertama asap rokok terhirup, tubuh langsung merasakan dampaknya.
Ini bukan sekadar urusan kebiasaan atau preferensi, tetapi tentang bagaimana zat-zat di dalam rokok mulai bekerja diam-diam di tubuh kita, bahkan sebelum kita sadar apa yang sedang terjadi. Begitu asap masuk, nikotin dengan cepat menuju otak.
Dalam hitungan detik, otak merespons dengan melepaskan dopamin, zat kimia yang memicu rasa nyaman sesaat. Efek inilah yang membuat rokok terasa menenangkan di awal. Namun rasa nyaman itu cepat memudar, lalu muncul dorongan untuk menghisap lagi. Menurut Krishna Sudhir, mekanisme inilah yang membuat rokok mudah membentuk pola ketergantungan.
Masalahnya, nikotin bukan satu-satunya zat yang ikut masuk. Asap rokok membawa ribuan senyawa lain yang harus disaring oleh paru-paru. Dalam jangka pendek, tubuh mungkin masih bisa beradaptasi. Tapi jika terjadi terus-menerus, jaringan paru-paru bisa mengalami iritasi dan kehilangan elastisitasnya. Akibatnya, napas terasa lebih pendek dan tubuh lebih cepat lelah.
Efeknya tidak berhenti di paru-paru. Zat kimia dari rokok ikut memengaruhi aliran darah. Pembuluh darah menjadi lebih kaku dan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Tanpa disadari, tubuh terus berada dalam kondisi “siaga”, seolah sedang menghadapi tekanan.
Yang sering tidak disadari, rokok juga memengaruhi keseharian. Konsentrasi bisa menurun, tubuh lebih mudah lelah, dan respons terhadap stres justru menjadi lebih sensitif. Rasa tenang yang dicari lewat rokok sering kali hanya bersifat sementara, sementara dampaknya tertinggal lebih lama di tubuh.
Memahami apa yang terjadi di balik satu batang rokok bukan untuk menakut-nakuti, tapi memberi gambaran yang lebih jujur. Karena semakin kita tahu bagaimana tubuh bekerja, semakin besar peluang kita untuk membuat pilihan yang lebih sadar terhadap diri sendiri.