RRI.CO.ID, Batam - Pengendara di Singapura dalam waktu dekat cenderung lebih memilih mobil berbahan bakar bensin dibandingkan kendaraan listrik. Minat masyarakat terhadap mobil listrik terlihat menurun, sementara ketertarikan pada mobil bensin justru meningkat.
Berdasarkan laporan Business Times Singapore yang mengutip studi EY bertajuk
Mobility Consumer Index (MCI), sebanyak 32 persen responden menyatakan rencana membeli mobil bensin dalam dua tahun ke depan. Persentase ini naik dari 26 persen pada 2024. Di sisi lain, minat membeli mobil listrik dalam periode yang sama turun menjadi 58 persen, dari sebelumnya 73 persen. Adapun 10 persen responden masih belum menentukan pilihan jenis kendaraan.Meski Singapura dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam penerapan kendaraan listrik di Asia Tenggara, survei EY menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap mobil listrik masih terbatas. Dari 300 calon pembeli mobil yang disurvei, sebagian besar menyampaikan kekhawatiran terkait ketersediaan infrastruktur pengisian daya serta mahalnya biaya penggantian baterai.
Pemimpin industri EY-Parthenon ASEAN dan Singapura, Sriram Changali, mengatakan bahwa hasil survei tahun ini menunjukkan adanya perubahan sikap konsumen. Jika pada tahun lalu pembeli mobil masih sangat optimistis terhadap kendaraan listrik, kini mereka mulai kembali mempertimbangkan mobil berbahan bakar bensin sebagai pilihan utama. Menurutnya, penurunan minat ini mencerminkan sikap konsumen yang lebih berhati-hati dan mengutamakan aspek kepraktisan dalam memiliki kendaraan.
Meski demikian, posisi Singapura sebagai pemimpin regional dalam adopsi kendaraan energi baru masih tetap kuat. Laporan terpisah dari distributor otomotif global Inchcape pada 2025 mencatat bahwa Singapura menempati peringkat teratas di Asia Tenggara dalam penggunaan kendaraan energi baru.